• Ada yang mengabdikan diri melalui pendidikan.
• Ada yang bergerak dalam pelayanan sosial.
• Ada yang membina generasi muda.
• Ada pula yang membawa Dharma ke ruang akademik dan menjaga keberlanjutan tradisi Mahayana.
Mari mengenal perjalanan pengabdian mereka.
Dari pendidikan ke binaan generasi muda
• Kepala Vihara Mudita Center, Jakarta.
• Dewan Pelindung Young Buddhist Association of Indonesia.
Menempuh pendidikan Psikologi Klinis di Universitas Kristen Maranatha, Pali and Buddhism di University of Kelaniya, Sri Lanka, serta studi Buddhis di Fo Guang Shan, Taiwan.
Melalui Asthasila, Temple Stay, Dhammayatra sekolah, pembinaan kepemimpinan Buddhis, hingga Pet Blessing.
Pada Waisak Sangha Mahayana Indonesia 2018, beliau juga dipercaya sebagai Ketua Panitia. Dharma dibawa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dharma bertemu dunia akademik.
Dr. Duta Arya Sutrisno, S.Ag., М.І.Коm.
Ketua STAB Maha Prajna Jakarta periode 2025-2030.
Sebelumnya tercatat sebagai dosen Ilmu Komunikasi di STABN Raden Wijaya.
Kiprah Penelitian:
Fokus pada komunitas Sangha Mahayana. Pada 2025 dan 2026, beliau menerbitkan studi tentang kohesivitas monastik dan komunikasi pemimpin Buddhis.
Publikasi:
Salah satunya terbit internasional di Asian Anthropology. Menjaga Dharma juga berarti membangun tradisi intelektual yang kuat.
Dharma yang hadir dalam pelayanan sosial.
• Sie. Sosial Sangha Mahayana Indonesia.
• Kepala Vihara Veluvana, Temanggung.
Memadukan pembinaan Dharma, pengelolaan vihara, pendidikan, dan kegiatan sosial.
• Pada Januari 2026, beliau terlibat dalam program bantuan “Paket Harapan di Tengah Genangan”.
• Menjelang Waisak 2026, beliau juga memimpin penyuluhan agama Buddha di Vihara Veluvana.
• Pengabdian kepada Dharma bertemu langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Menjaga praktik Mahayana tetap diteruskan Jejak publik beliau memang tidak sebanyak anggota Sangha lainnya.
Namun dokumentasi pendidikan yang ditemukan menunjukkan keterlibatannya dalam membimbing materi Puja Bhakti dan Ritual Mahayana bagi mahasiswa STAB Maha Prajna.
Dari tata puja hingga pemahaman ritual, tradisi membutuhkan generasi yang mempelajari, memahami, lalu meneruskannya.
Di sinilah pendidikan monastik memainkan peran penting.
Dharma melalui pengajaran dan pelayanan Aktif dalam Dharmadesana, puja, pembacaan sutra, serta praktik Dharma di lingkungan Pusdiklat Buddhis Bodhidharma Jakarta.
Beliau juga menulis buku “Kuntum Melati di Halaman Rumah” yang diterbitkan pada 2020.
Pada Januari 2025, beliau terlibat dalam pelayanan sosial bagi sekitar 150 lansia di Citeureup, Bogor.
Pada 2026, beliau kembali aktif memimpin peringatan Amitabha Buddha, Dharmadesana, dan pembacaan Saddharma Pundarika Sutra.
Belajar Dharma, Mempraktikkan Dharma, Membagikan manfaatnya.
Generasi monastik yang sedang bertumbuh Sramanera dan mahasiswa STAB Maha Prajna, Cilincing. Perjalanannya menggambarkan regenerasi kehidupan monastik Buddhis.
Pada 2025, beliau tercatat mengikuti kunjungan mahasiswa STAB Maha Prajna ke RRI Sungailiat.
Pada April 2026, beliau turut melayani umat dalam
Temple stay bersama YBA di Villa Dharma Ledug Trawas dan Vihara Mudita Center.
Dari pendidikan menuju pelayanan.
Sebuah perjalanan yang masih terus berkembang.
Keberlangsungan Dharma butuh dukungan umat.
Dana kita menyokong hidup Sangha, pendidikan Dharma, dan pelayanan umat.
Di momen Ullambana, kebajikan ini kita dedikasika untuk leluhur:
Dukung Sangha: Jaga keberlangsungan institusi pencinta Dharma.
Limpahkan Jasa: Salurkan buah bajik ke orang tua dan leluhur.
Empat Langkah Utama:
Bertemu. Dengar Dharma. Berbuat bajik. Limpahkan jasa.
Leave a Reply