Hari ini kita sering dengar seolah agama-agama cuma bisa bertabrakan. Tapi sejarah menyimpan kisah lain, kisah saat dua iman duduk bersama, dan saling belajar.
Namanya Rashid al-Din (+1247-1318). Dokter, sejarawan, dan menteri di kekaisaran Mongol. Karyanya, Jāmiʿal-Tawārīkh disebut salah satu “sejarah dunia pertama.”
Di dalamnya, ada ~20 bab tentang Buddhisme. Para sejarawan menyebutnya presentasi Buddhisme paling lengkap dalam sumber Muslim mana pun Ia bahkan mengunjungi vihara, melihat patung, menyaksikan ritual.
Dan ia tidak menebak-nebak. Ia bekerja sama dengan seorang biksu dari Kashmir Kamalašrı Bahši, yang menguasai nom (Dharma). Seorang Muslim dan seorang Buddhis, duduk bersama, berbagi ilmu
Beberapa sutra Buddha, termasuk Vāseṭṭha Sutta tentang kehidupan sederhana, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia dan Arab. Gregory Schopen (1982) menyoroti terjemahan ini sebagai ajaran kebajikan yang disalin dalam bahasa lain.
Untuk menjelaskan yang asing, ia pakai kata yang familiar bagi pembaca Muslim. Itu cara menerjemahkan, membangun jembatan, bukan menyamakan dua agama. Persis seperti kita menjelaskan hal baru lewat kata yang sudah dikenal.
Jujur: terjemahannya tak selalu pas. Ada salah paham, ada penyesuaian. Tapi yang luar biasa di tengah dunia abad ke-14, ada upaya tulus untuk memahami, bukan menghakimi. Itu yang langka. Dulu, dan sekarang.
Di negeri kita, rumah bagi banyak iman ini sebuah teladan: Belajar tentang yang berbeda, langsung dari sumbernya, dengan hormat. Termasuk kita, Seberapa sungguh kita mengenal tetangga kita yang beda iman?
700 tahun lalu, seorang Muslim & seorang biksu duduk bersama dan menulis sejarah. Kalau mereka bisa saling mengenal dengan hormat, kita pun bisa.
Leave a Reply