Ada satu jenis duka yang tidak punya tempat. Tidak ada akta. Tidak ada pengumuman. Sering kali tidak ada yang tahu dan tidak ada nama yang pernah diucapkan keras-keras.
Dan ternyata ada istilahnya. Para peneliti menyebutnya disenfranchised grief-duka yang tidak diakui. Yaitu: “duka yang dialami mereka yang mengalami kehilangan yang tidak dapat diakui secara terbuka, diratapi di depan umum, atau didukung secara sosial.” Dan kehilangan kehamilan disebut “contoh yang paling sempurna.”
“Perempuan melaporkan adanya jurang antara intesitas duka mereka dan sejauh mana mereka diizinkan mengungkapkannya.” Bacalah pelan-pelan.
Bukan dukanya yang kurang besar, melainkan ruangnya yang terlalu sempit.
Kata para peneliti, bagi duka seperti ini “hanya ada sedikit sekali sistem dukungan, ritual, tradisi, atau lembaga yang tersedia.” Jadi masalahnya bukan bahwa bayinya “melekat.” Masalahnya: tidak ada tempat untuk menaruhnya.
Dan di situlah sebuah nama menjadi berarti.
Karena untuk banyak ibu, ini mungkin pertama kalinya nama itu ditulis. Di mana pun.
Dan riset tentang kehilangan seperti ini mencatat sesuatu: “Perempuan yang menemukan makna dalam kehilangan mereka melaporkan berkurangnya tekanan batin, hubungan yang lebih baik dengan pasangan, ikatan yang berlanjut dengan anak mereka, dan kesehat”
Ini bukan berarti “kamu sakit karena bayimu.” Sama sekali bukan. Yang dikatakan hanya, duka yang tidak pernah diberi tempat memang membebani. Dan menemukan makna dikaitkan dengan hidup yang lebih ringan. (Dan kalau kamu sedang sakit, tolong tetap periksakan ke dokter.)
Dan perhatikan satu frasa di dalamnya: “ikatan yang berlanjut.” Bukan “ikatan yang diputus.” Jadi kalau ada yang berkata “sudah, lepaskan saja”
izinkan kami memperjelas:
Yang dilepas bukan anaknya.
Yang dilepas adalah beban memikulnya sendirian.
Dalam tradisi Mahāyāna, nama bayi yang gugur sebelum maupun saat kelahiran juga dapat didaftarkan. Ia diletakkan bersama nama-nama yang lain. Dibacakan bersama nama-nama yang lain.
Didoakan bersama nama-nama yang lain.
Untuk pertama kalinya, ia ada di sebuah daftar.
Dan kalau kamu yang membaca ini, Kamu tidak harus bercerita kepada siapa pun. Kamu boleh menuliskan namanya tanpa memberi tahu siapa pun.
Tidak ada batas waktu, dua puluh tahun lalu pun masih boleh dan kalau kamu belum siap, itu juga tidak apa-apa.
(Untuk para ayah juga: dukamu sering lebih tak terlihat, kami tahu ia ada. Dan bila bebannya terasa terlalu berat. berbicara dengan tenaga profesional bukan tanda lemah.)
Leave a Reply