Jelaskan kenapa kita ke vihara, kenapa kita berdana. Anak yang paham maknanya nggak perlu terus dipaksa.
Saat dia marah, ajari menyadari napas. Saat ia iri, ajari berhenti membandingkan. Buat nilai ini kepakai tiap hari.
“Hormati cara ibadah temanmu, tapi nggak usah malu sama caramu sendiri.” Keyakinan yang sehat nggak pernah takut beda.
“Kenapa sujud ke patung?” — Menghormati teladan gurunya, bukan menyembah batunya. Bikin dia paham logikanya biar nggak bingung saat ditanya teman.
Pertanyaan bukan tanda kehilangan arah, tapi cara dia membangun keyakinan miliknya sendiri.
Apakah kita gampang meledak? Atau mau minta maaf pas salah? Teladan di rumah jauh lebih berisik daripada teori. Jangan cuma wariskan label di KTP. Wariskan cara hidup yang bikin dia bertahan saat kita sudah tiada.
Leave a Reply