Kenapa Juni disebut Bulan Bung Karno? Karena di bulan inilah hidupnya berputar:
• Lahir 6 Juni 1901.
• Pancasila – 1 Juni 1945.
• Wafat-21 Juni 1970.
Tiga tonggak, satu bulan. Maka Juni kita kenang sang Bapak Bangsa
Di hadapan sidang BPUPKI, Soekarno memperkenalkan nama bagi dasar negara: “Pancasila”. Tapi dari mana nama itu ia ambil? Jawabannya membawa kita jauh ke masa lampau Nusantara…
“Pancasila” berasal dari Sanskerta: Panca (lima) + sila (dasar, laku susila). Istilah ini sudah tertulis di Kakawin Sutasoma di abad ke-14, Majapahit. Dan istilah yang sama adalah Pancasila – Lima Sila dalam Buddhisme. (Catatan jujur: isi 5 sila negara berbeda dari 5 sila Buddhis – yang sama adalah akar istilahnya.)
Dan inilah yang membuat bulu kuduk berdiri: “Bhinneka Tunggal Ika” semboyan di kaki Garuda kita lahir dari kitab yang sama: Kakawin Sutasoma, karya Mpu Tantular, Seorang pujangga Buddhis di Majapahit. Satu kitab. Dua jantung bangsa.
Bhinneka Tunggal Ika berasal dari frasa tan hana dharma mangrwa yang berarti meskipun berbeda, hakikat kebenaran adalah satu. Semboyan ini berakar pada konsep non-dualitas Prajñaparamitā yang merangkul keberagaman, terutama dalam konteks kerukunan antara Buddha dan Siwa.
pangeran yang menolak Ia seorang Bodhisattva takhta demi mencari kebenaran. Saat berhadapan dengan raja pemakan manusia, ia tak melawan dengan kekerasan melainkan dengan welas asih (karuņā). Ia bahkan rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan para raja lain. Cinta menaklukkan kebuasan.
Dan kisah ini menyentuh Bung Karno secara pribadi. Tahun 1962, di Bali, ia menyaksikan pertunjukan Wayang Sutasoma. Ia begitu tergerak menggemakan kesediaan Sutasoma berkorban demi sesama. Banyak yang melihat gema itu dalam dirinya: kesediaan menanggung pengorbanan pribadi demi keutuhan bangsa.
Dan di era Bung Karno, Dharma pun bangkit kembali. Tahun 1953, untuk pertama kalinya, Waisak nasional diselenggarakan di Borobudur dihadiri ribuan orang & para duta besar asing. Dipelopori Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, biksu putra Indonesia pertama di abad ke-20. Cahaya lama, menyala lagi.
Maka di Bulan Bung Karno ini, kita diingatkan:m bahwa persatuan dalam perbedaan bukan slogan baru, ia DNA kuno Nusantara, yang mengalir dari para leluhur lintas iman & zaman. Pancasila adalah rumah kita semua. Bhinneka Tunggal Ika adalah napas kita bersama.
Terima kasih, Bung Karno.
Selamat Bulan Bung Karno.
Leave a Reply