Pertama, jangan langsung masuk mode debat. Kamu tidak perlu menjelaskan seluruh Buddhisme dalam 10 menit.
Cukup jawab:
“Aku menghormati leluhur dan mendedikasikan kebajikan untuk mengenang mereka.”
Sederhana.
Tidak defensif.
Tidak menggurui.
Kalau ditanya:
“Kenapa doa ke orang yang sudah meninggal?”
Kamu bisa jawab:
“Buatku, ini cara mengingat jasa mereka, menjaga rasa terima kasih, dan melakukan kebajikan atas nama mereka.”
Jadi fokusnya bukan takut pada leluhur.
Tapi bakti dan rasa terima kasih.
Jawaban elegannya:
“Yang aku hormati bukan bahan patungnya. Rupang Buddha mengingatkanku pada kebijaksanaan, welas asih, dan jalan hidup Buddha.”
Seperti sebuah foto bisa mengingatkan kita pada seseorang yang kita hormati. Rupang membantu mengarahkan batin.
Hindari:
●”Tradisi kamu juga aneh”
●”Ini sudah paling benar”
●”Kamu tidak akan mengerti.”
Karena tujuan percakapan bukan menang.
Tujuannya: saling mengerti tanpa harus saling menyetujui.
Kamu tetap bisa santai. “Aku paham kelihatannya asing kalau belum pernah mengenalnya. Tapi ini bagian dari praktik dan penghormatanku.” Lalu selesai.
Tidak semua komentar membutuhkan kuliah agama. Kadang kedewasaan adalah tahu kapan harus menjelaskan, dan kapan cukup tersenyum.
Ini win-win solution-nya
Kamu tidak perlu menyembunyikan keyakinanmu.
Mereka juga tidak perlu dipaksa mempercayainya.
Kamu tetap bisa:
●Menghormati leluhur
●Bersujud di depan rupang Buddha
●Menjalankan tradisi keluarga
sambil tetap menghormati cara orang lain menjalani keyakinannya. Inilah hidup bersama.
Menjadi Buddhis tidak berarti semua orang harus memahami praktik kita.
Yang lebih penting:
Apakah praktik itu membuat kita lebih berbakti, lebih rendah hati, lebih sadar, dan lebih berwelas asih?
Kalau iya, biarkan sikap hidupmu menjadi penjelasan yang paling indah.
Leave a Reply