Kisah itu belum terbukti.
Cucurella tidak pernah mengatakannya dan yang paling jelas, ia sudah berambut panjang jauh sebelum putranya lahir.
Ia sendiri pernah menjelaskannya dan jawabannya justru lebih indah: “Ibunya.” Dulu, sang ibu membiarkan rambutnya & rambut saudaranya tumbuh panjang karena saat mengantar mereka bertanding, “ia ingin bisa mengenali anak-anaknya.”
Jadi kisahnya sebetulnya benar.
Rambut itu memang sebuah penanda kasih. Hanya saja itu kasih seorang ibu dan kini anak yang dulu dicari itu telah menjadi seorang ayah.
Karena yang benar-benar ia lakukan untuk putranya jauh lebih besar dari sehelai rambut.
Putra sulungnya, Mateo, adalah anak dengan autisme, sesuatu yang ia dan istrinya ceritakan sendiri secara terbuka.
Dan ini yang terverifikasi:
“Sebelum mempertimbangkan pindah ke klub mana pun” ia lebih dulu memeriksa apakah kota itu punya “sekolah khusus” & “layanan terapi” untuk putranya. Sepak bola tetap profesinya tapi kebutuhan anaknya kini seberat pertimbangan kariernya.
Dan mereka tidak menutupinya.
Ia berkata bagian tersulit setelah diagnosis adalah:
“tidak tahu bagaimana kami bisa membantu.
“
Istrinya bercerita dukungan dari sekolah sangat terbatas dan ada masa ketika mereka pulang sambil “menangis.”
Kita menyukai kisah tentang sehelai rambut karena ia indah dan mudah dibagikan.
Tapi kasih yang sesungguhnya jarang tampil sebagai simbol yang indah. Ia tampil sebagai keputusan yang sunyi yang tak seorang pun bertepuk tangan untuknya.
Buddha memakai citra yang persis sama untuk menjelaskan cinta kasih tanpa batas:
“Bagaikan seorang ibu yang melindungi putra tunggalnya dengan nyawanya, demikian pula kembangkanlah cinta kasih tanpa batas kepada semua makhluk.” (Karaniya Metta Sutta, Sn 1.8)
“apa simbol kasihku?”
Melainkan: “keputusan sunyi apa” yang sudah kuambil hari ini untuk seseorang yang kucintai “tanpa siapa pun tahu?”
Dan kalau kamu termasuk yang ikut membagikan kisah rambut itu tenang saja. Karena kisah itu dibagikan dengan “niat baik.” Hanya saja, kadang kebenaran ternyata “lebih indah” dari kisahnya.
Sadhu.
Leave a Reply