Pernah ingin bersuara soal yang keliru lalu diminta diam: “Jangan, nanti nama baik lembaga tercoreng.”
Yang salah disapu ke bawah karpet. Citra diselamatkan. Tapi yang terluka diminta menanggung sendiri.
Buddha mengajar tanpa “kepalan tangan guru”. Tak ada rahasia, tak ada yang disimpan untuk lingkaran dalam. (DN 16)
Sangha dibangun di atas pengakuan terbuka, bukan tutupan. Menyembunyikan pelanggaran bukan menjaga ia menambah luka.
“Tiga hal bersinar terbuka: matahari, bulan, dan ajaran sang Tathagata.” (ΑΝ 3.129) Yang benar tak takut pada cahaya.
Bukan yang tanpa cela tapi yang berani jujur saat tercela, lalu memperbaiki diri.
Dan jangan-jangan… kita juga? Pernah memilih citra di atas kebenaran? Pernah ikut menyuruh diam?
Menutupi tak pernah menyembuhkan. Transparansi & perlindungan adalah bentuk cinta tertinggi pada Dhamma & sesama.
Leave a Reply