Kita masuk ingin melayani.
Lalu pelan-pelan, yang tinggal hanya siapa dapat jabatan apa.
Rapat jadi medan perang.
Acara jadi alat pamer.
Vihara jadi panggung, umat jadi penonton.
Buddha memperingatkan keras: perolehan, hormat, kemasyhuran “menakutkan, pahit, penghalang” menuju kebebasan. (SN 17)
Devadatta pun dahulu ingin memimpin Saṅgha.
Ambisi dalam jubah bukan hal baru, ia setua Dhamma itu sendiri.
Akarnya satu kata: “aku”.
Aku yang berjasa.
Aku yang layak.
Aku yang harus dihormati.
Ukuran pelayan sejati bukan kursi yang diduduki tapi beban yang dipikul tanpa minta dilihat.
Dan jangan-jangan kita juga?
Pernah tersinggung saat tak disebut?
Pernah ingin diakui?
Kursi akan berganti. Pelayanan akan dikenang. Duduklah untuk memikul, bukan untuk dipuja.
Leave a Reply