Namanya Luis de la Fuente.
Juli 2011, ia ditunjuk melatih Deportivo Alavés – klub divisi ketiga Spanyol.
Oktober 2011, setelah hanya 11 pertandingan, ia dipecat. Alasannya: hasil tak memuaskan. Permainan tak kunjung membaik.
Lalu datanglah bagian, yang jarang diceritakan orang.
Setelah itu, ia menganggur selama 18 bulan.
Pers Spanyol, menjuluki masa itu: “78 Senin, di bawah matahari.” Tujuh puluh delapan kali, ia bangun, di awal pekan tanpa pertandingan, tanpa sesi latihan dan tanpa kepastian.
Dan saat itu, usianya sudah 50 tahun, bukan 25.
Bukan usia “masih panjang jalannya”.
Lima puluh, coba bayangkan senin-senin itu sunyinya.
2013, ia masuk ke federasi melatih kelompok usia muda. Bukan panggung besar, bukan sorotan dan di sana, ia menanam:
• Juara Eropa U19 (2015).
• Emas U18 (2018).
• Juara Eropa U21 (2019).
• Perak Olimpiade (2021).
Dan, pada 19 Juli 2026, di MetLife Stadium, New York – Spanyol menang 1-0 atas Argentina. Dan pria itu, yang pernah dianggap tak becus melatih, mengangkat trofi Piala Dunia.
Lima belas tahun, setelah Senin-Senin sunyi itu.
Dan di sinilah Dhamma menamai apa yang sesungguhnya terjadi. Buddha mengajarkan
Delapan Kondisi Duniawi atau, delapan angin.
• Untung, & rugi.
• Tenar, & tak dikenal.
• Pujian, & celaan.
• Senang, & sakit.
“Kedelapannya,” kata Buddha, “berputar, mengelilingi dunia.” (Lokavipatti Sutta, AN 8.6)
FIFA WORLD
Pada 2011, angin celaan, menghantamnya.
Pada 2026, angin pujian, menyanjungnya.
Dan Buddha mengingatkan bahwa kedelapan angin itu semuanya, tak kekal dan dapat berubah.
Yang membedakan orang bijak, bukanlah ia tak mengalaminya melainkan, ia tak terguncang olehnya.
jangan biarkan label dunia menentukan, siapa dirimu. Tidak saat ia menghancurkanmu dan tidak pula saat ia memujamu.
Karena keduanya, hanyalah angin.
Yang benar-benar, tersisa adalah benih yang kau tanam. Bahkan di Senin-Senin yang tak seorang pun menonton.
Untuk kamu yang sedang berada di senin-senin mu sendiri, lamaran yang tidak dibalas, usaha yang belum tumbuh, label yang melekat dari orang lain.
Kami tak akan bilang nanti “pasti kamu jadi juara dunia” karena hidup tidak sesederhana itu tapi kita mau bilang ini, “celaan itu tidak kekal” dan benih yang kamu tanam tidak pernah hilang
Dan satu hal terakhir.
Trofi itupun “tidak kekal”. Angin pujian hari ini suatu saat akan berputar lagi.
Itulah sebabnya Buddha mengajarkan:
Berdirilah dengan tenang di tengah kedelapan angin itu.
Tanam benihmu dan lepaskan labelnya
Leave a Reply