Dalam kitab kosmologi Buddhis Abhidharmakośa,Gunung Sumeru berdiri kokoh tepat di pusat alam semesta. Ia menjulang megah, dikelilingi oleh cincin samudra luas, jajaran gunung emas raksasa, dan empat benua besar. Dunia tempat manusia hidup saat ini berada di benua bagian selatan bernama Jambudvīpa.Tepat di puncak tertingginya, berdiri istana Trāyastriṃśa milik Śakra (Indra), sang raja para dewa yang memimpin dengan bijaksana.
Tepat di istana puncak tersebut, Sutra Avataṃsaka melukiskan sebuah keajaiban yang memesona: Jala Indra. Ia adalah sebuah jaring mahaluas yang membentang tanpa batas ke segala penjuru. Pada setiap simpul jaringnya, terikat sebutir permata murni yang bertugas memantulkan seluruh permata lainnya di alam semesta. Satu permata memuat segalanya, dan segala hal termuat di dalam satu permata. Inilah esensi śūnyatā-di mana tidak ada satu pun hal yang berdiri sendiri, karena segala sesuatu saling terhubung tanpa batas.
Keberadaan gunung kosmik mahabesar ini ternyata memiliki akar sejarah yang sangat lekat di tanah kita sendiri. Naskah kuno Tantu Panggelaran dari era Kerajaan Majapahit mengisahkan bahwa dahulu kala Pulau Jawa terombang-ambing, terapung, dan berguncang hebat di atas lautan luas. Demi menstabilkannya, para dewa memutuskan memindahkan puncak Mahameru dari Jambudvipa untuk dijadikan “paku bumi” penahan Jawa. Sisa badan utamanya kini kokoh berdiri sebagai Gunung Semeru.
Sepatah hormat, hingga kini Semeru gunung sakral yang hidup, terutama bagi saudara kita umat Hindu & Tengger. Kosmologi Meru milik bersama. Dan umat Buddha Nusantara punya “Meru”-nya sendiri: Borobudur – Bhūmisaṃbhāra, gunung himpunan kebajikan yang memandu langkah Bodhisattwa menuju pencerahan.
Lalu datang belokan Mahayana yang memukau. Dalam Sutra Vimalakīrti, Sang Vimalakīrti menempatkan seluruh Sumeru ke dalam sebutir biji sesawi tanpa gunung mengecil, tanpa biji membesar. Pesannya: Yang mahabesar & mahakecil tak sungguh terpisah. Gunung kosmik itu? Ada di dalam dirimu
Maka, “menjadi gunung” bagi batin berarti seperti Buddha Akşobhya (阿閦佛 a chù fó) “Yang Tak Tergoyahkan”. Karena hidup selalu diterpa Delapan Angin (八風 bā fēng): untung-rugi, puji-cela, tenar-tercela, suka-duka. Yang bijak? Bagai vajra (intan) (八風吹不動 ba feng chui bù dòng), “delapan angin tak menggoyahkan.”
Tapi ada paradoks indah. Semeru “gunung kosmik” itu justru paling aktif, ia bergetar, erupsi, berubah. (Dengan hormat & doa bagi semua yang terdampak letusannya.) Sutra Intan 金剛經 (Jīngāng Jīng): segala yang berkondisi bagai mimpi, gelembung, embun, dan kilat. Tak ada yang kekal.
Jadi kokoh sejati bukan menjadi batu kaku yang menyangkal perubahan. Kokoh sejati adalah batin yang melihat śūnyatā, melihat segala saling terhubung & tak kekal lalu berhenti mencengkeram. Itulah upekşā: tenang yang mengalir. Dan ia berdiri teguh bukan demi diri sendiri tapi demi semua makhluk (bodhicitta).
Kamu tak perlu mendaki Semeru untuk menemukan gunung suci itu. Seperti Sumeru dalam biji sesawi ia sudah ada di dalam batinmu. Bangunlah ia: teguh bagai Akşobhya, lapang bagai langit, demi semua makhluk.
Leave a Reply