HUKUMAN MATI DARI SUDUT PANDANG BUDDHA

HUKUMAN MATI DARI SUDUT PANDANG BUDDHA

Hukuman mati 

(brahmadanda atau dandavadha) berarti vonis pengadilan dalam bentuk hukuman mati. 

 

Buddha menolak hukuman mati karena melibatkan kekejaman dan pembunuhan, karena bertentangan dengan sila pertama yakni bertekad menghindari pembunuhan. 

 

Beligu berkata bahwa hakim yang menjatuhi hukuman mati, penyiksa, dan eksekutor semuanya telah berlaku salah, menjalani penghidupan kejam (kurūra kammanta) dan menciptakan begitu banyak karma negatif bagi diri mereka sendiri (S.II, 257). 

 

Dalam falsafah ajaran Buddha adalah lebih baik mencoba mengubah kriminal menjadi anggota masyarakat yang produktif daripada mengeksekusi mereka. 

Seorang raja dalam kisah Jātaka berkata kepada seorang yang bersalah, “Saya menghukum orang tidak hanya berdasarkan keadilan namun juga dengan simpati” (Ja.III, 442). 

 

Nagarjuna seorang filsuf Buddhis yang dikenal bijak pada abad ke-1 M mengutarakan, “Sebagaimana seorang anak dihukum agar dia menjadi lebih baik, maka hukuman hendaknya diberikan atas dasar belas kasih dan bukannya kebencian atau keserakahan. 

 

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TRANSLATE

 

VESAK FESTIVAL 2024 & SANGHADANA

 

SURABAYA
22 - 26 Mei 2024
Main Atrium, Tunjungan Plaza 3

 

JAKARTA
29 Mei - 2 Juni 2024
Center Atrium, Mal Taman Anggrek

 

BCA 088 880 7988
a.n. Yayasan Muda Mudi Buddhis Bersatu

Yayasan Muda Mudi Buddhis Bersatu
BCA KCU Darmo Surabaya (CENAIDJA)
088.880.7988

Yayasan Muda Mudi Buddhis Bersatu
BCA KCU Darmo Surabaya (CENAIDJA)
088.880.7988