Di sebuah muara di Australia Barat, terekam drone. Anaknya lahir pada musim dingin, waktu yang menurut periset sering berarti peluang bertahan hidup yang kecil. Ia meninggal sekitar dua minggu setelah lahir, dan Fraggle sudah kehilangan empat anak.
Periset yang mengamatinya menjelaskan satu kebiasaan mereka.
Katanya: “Kami biasanya baru memberi nama anak-anak lumba-lumba setelah beberapa waktu, ketika kami yakin mereka akan bertahan hidup.”
Artinya, anak itu belum sempat punya nama.
Dan dua ribu lima ratus tahun lalu, seorang ibu bernama Kisā Gotami juga membawa jenazah anaknya berkeliling. Ia menolak percaya bahwa anaknya telah mati.
Beliau menyanggupi memberi obat, tapi Beliau memerlukan biji sesawi, rempah paling murah di India, yang diperoleh dari sebuah keluarga yang belum pernah ada anggotanya meninggal.
Maka ia berjalan, dari rumah ke rumah dan tak seorang pun menolak memberinya biji sesawi. Tapi ketika ia bertanya apakah pernah ada yang meninggal di keluarga itu, jawabannya selalu “Oh ya, tentu saja. “ Rumah demi rumah, sampai akhirnya pesannya meresap.
“Biji sesawi mudah didapat, tetapi rumah yang tak tersentuh kematian tidak dapat ditemukan.” Dan setelah itu, ia meletakkan anaknya sendiri.
Perhatikan caranya, Buddha tidak menyuruhnya melepaskan, Beliau menyuruhnya berjalan.
Dan kalau kamu pernah kehilangan seorang anak, kami tidak sedang berkata: “lumba-lumba saja bisa melepaskan, masa kamu tidak.” Sama sekali tidak. Justru kebalikannya, Fraggle butuh enam hari, Kisā Gotami butuh berjalan seharian, dan keduanya tidak dipaksa siapa pun.
Bukan karena ia sudah “ikhlas”, melainkan karena ia harus mencari makan untuk bertahan hidup. Hidup terus meminta sesuatu darinya, dan suatu hari, ia menjawab.
Jadi kalau hari ini kamu masih membawanya, tidak apa-apa. Duka bukan kelemahan manusia. Ia yang dilakukan kasih sayang di dalam tubuh, tubuh mana pun.
Sādhu.
Leave a Reply