22 Juni 1527 menjadi titik awal penanggalan resmi kota ini. Panglima Fatahillah berhasil merebut pelabuhan Sunda Kelapa dari kendali Portugis. Tempat ini kemudian dinamai Jayakarta, sebuah frasa yang berarti kota kejayaan dan kemenangan mutlak. Dalam pusaran sejarah kolonial, nama tersebut terus berganti rupa dari Jayakarta menjadi Batavia, sebelum akhirnya kembali menjadi Jakarta. Tepat hari ini, 499 tahun kemudian sejak peristiwa bersejarah itu, kita merayakan ketangguhan sebuah kota megapolitan yang tidak pernah berhenti bertumbuh dan beradaptasi
Tapi jauh sebelum 1527, tanah ini sudah hidup. Lebih dari 1.000 tahun lalu, di sini berdiri pengaruh Tarumanagara – kerajaan Hindu-Buddha. Buktinya nyata: Prasasti Tugu, peninggalan Raja Purnawarman, ditemukan di Jakarta Utara. Peradaban berakar India sudah menyapa tanah ini jauh sebelum kota ini punya nama.
Lalu datang lapis ketiga. Tahun 1650, di Glodok, berdiri klenteng tertua Jakarta: mulanya bernama Kwan Im Teng – “Paviliun Kwan Im”. Didedikasikan untuk Kwan Im (Avalokiteśvara /Guanyin), Bodhisattva Welas Asih. Tahukah kamu? Kata “klenteng” sendiri lahir dari nama “Kwan Im Teng”.
Sejarah tak selalu lembut. Tahun 1740, dalam tragedi Geger Pecinan, klenteng ini pun ikut terbakar. (Kita kenang peristiwa kelam itu dengan hormat, dan doa bagi semua korban.) Namun komunitasnya tidak menyerah. Dari abu, mereka membangun kembali.
Tahun 1755. klenteng itu bangkit lagi dengan nama baru Jin De Yuan (金德院) – “Kebajikan Emas”. Sebuah pengingat yang ditinggalkan leluhur bahwa harta paling berharga di kota sesibuk ini bukan emas di brankas melainkan kebajikan di antara sesama. Nama itu masih berdiri sampai hari ini.
Dan ada keindahan lain di klenteng tua ini. Di bawah satu atap, hidup berdampingan tiga ajaran (Tri Dharma): Buddha, Tao, & Konghucu. Bukan saling meniadakan melainkan saling menghormati. Sebuah miniatur kecil dari Jakarta itu sendiri: banyak iman, satu rumah bersama.
Lalu, bagaimana umat Buddha Jakarta hari ini? Menurut data 2024: Sekitar 3,46% warga Jakarta adalah umat Buddha hampir 5× rata-rata nasional. Tersebar di 289 vihara di seluruh penjuru kota. Salah satu komunitas Buddhis urban terbesar di Indonesia masih hidup, masih berdoa, masih berkarya.
Maka di hari jadi yang ke-499 ini, ada satu bisikan lembut dari klenteng tertua kota: Di tengah 11 juta jiwa yang mengejar “emas”, leluhur menamai rumah ibadah mereka “Kebajikan Emas”. Emas sejati sebuah kota bukan pada menaranya melainkan pada welas asih warganya.
Terima kasih telah menjadi rumah bagi begitu banyak iman, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu yang hidup berdampingan. Semoga kota ini selalu teduh, rukun, dan penuh kebajikan.
Leave a Reply