Sebutannya adalah peta atau preta bukan “setan” dalam pengertian umum. Mereka digambarkan sebagai makhluk yang mengalami kelaparan, kehausan, dan kekurangan berat akibat kondisi karmanya.
●Dalam Petavatthu, ada kisah makhluk peta yang harus memakan kotoran yang menjijikkan
●Dalam Mahāvastu, sebagian peta bahkan digambarkan meminum kotoran, urine, lendir, nanah, dan darah.
Jadi gagasan ini bukan sepenuhnya cerita orang tua zaman dulu
Tapi jangan salah paham.
Bukan berarti: rumah kotor langsung ada peta datang makan.
Buddhisme tidak mengajarkan rumus sesederhana itu. Cerita tentang peta lebih banyak menunjukkan:
Akibat karma, kemelekatan, keserakahan, dan kondisi kehidupan yang penuh kekurangan.
Jadi pesannya bukan untuk menakut-nakuti.
Lalu kenapa kebersihan penting dalam Buddhisme?
Karena lingkungan ikut memengaruhi batin
Ruangan penuh sampah, bau, debu, dan barang berserakan mudah membuat pikiran ikut berat dan tidak nyaman. Menjaga tempat tinggal adalah bagian dari hidup dengan perhatian.
Para Bhikkhu diajarkan: menyapu, membersihkan sarang laba-laba, membersihkan jamur, membuang sampah, bahkan menjaga toilet tetap bersih.
Dalam Parivara, menyapu bahkan disebut memiliki manfaat: membuat batin sendiri lebih jernih, membuat orang lain nyaman, dan menjadi perbuatan yang baik
Jadi mungkin nasihat orang tua kita punya dua lapis makna.
Secara Praktis:
Rumah bersih lebih sehat, lebih nyaman, lebih mudah dirawat.
Secara Dharma
kita belajar tidak hidup ceroboh, tidak membiarkan kekotoran menumpuk, di luar maupun di dalam batin.
Karena yang perlu dibersihkan bukan cuma rumah.
●Sampah dibuang.
●Debu dibersihkan.
●Barang dirapikan.
Tapi jangan lupa membersihkan juga:
●keserakahan
●kebencian
●iri hati
●kebiasaan buruk.
Rumah yang bersih membuat kita nyaman. Batin yang bersih membuat kita bebas.
Leave a Reply