Pertanyaan ini pernah membuat orang berhenti berlatih. Kalau diri tidak nyata, buat apa jadi orang baik?
Masalahnya bukan di jawabannya.
Masalahnya di kata “siapa”.
Bahasa memaksa kita mencari pelaku di balik setiap kejadian.
Hujan turun – siapa yang menghujankan?
Api pindah dari lilin ke lilin -apa yang berpindah?
Tidak ada.
Yang ada hanya syarat yang bertemu.
“Tidak ada apa pun juga yang berpindah dari dunia ini ke dunia yang lain.”
Namun benih kecil tetap berbuah besar
Śantideva, Bodhicaryavatara 8.102:
“Penderitaan tidak punya pemilik. Karena rasa sakit adalah rasa sakit, ia harus disingkirkan.”
Tanpa “aku”, tanggung jawab tidak hilang. Justru membesar. Karena tidak ada siapa pun untuk disalahkan yang tersisa hanya arus yang masih bisa dibelokkan.
Berhenti bertanya: “Kenapa selalu aku?”
Mulai bertanya: “Bagaimana ini muncul, dan bagaimana ia reda?”
Itu saja. Itu latihannya
Simpan kalau kamu masih perlu membaca ini lagi nanti. Kirim ke satu orang yang belakangan sering bilang “kenapa selalu aku”.
No self, no owner – only the path.
Leave a Reply