Kamu Keterlaluan Jika Makan Tanpa "Menghargai" Makanan

Kamu Keterlaluan Jika Makan Tanpa "Menghargai" Makanan

Bagi orang miskin dan kelaparan, makan tentunya tak lain dari mengenyangkan perut untuk menyambung hidup.

 

Buddha mengecam orang-orang yang berkelebihan tetapi tidak menaruh perhatian pada orang yang kekurangan.

 

Dalam Parabhava Sutta dinyatakan bahwa salah satu sebab kemerosotan datang dari orang kaya yang kendati berlimpah dengan harta dan makanan, menikmati sendiri kelebihan itu.

 

Kendo, seorang guru di kuil Yokenji selalu mengingatkan murid-muridnya agar menghargai makanan.

 

Mereka masih saja boros, menyisakan dan membuang makanan. Sedemikian besar keprihatinannya, sehingga ia mengumpulkan sisa makanan itu, mengolahnya lagi untuk memakannya sendiri.

 

Dogen dari kuil Eiheiji tidak pernah menyia-nyiakan air barang secangkir pun, walau tidak jauh dari kuilnya terdapat air terjun yang mengalir tiada hentinya. Sikap ini timbul karena menghargai sepenuhnya sumber alam.

 

TRADISI

 

di India pernah mengenal persembahan makanan sebagai korban untuk dewa.

 

Berbagai jenis makanan, hasil bumi dan ternak dilemparkan ke dalam api pemujaan. Buddha menolak kebiasaan itu.

 

Dalam Bhuridatta Jataka dinyatakan pemujaan pada api atau persembahan kepada dewa semacam itu sebagai kurang terampil.

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TRANSLATE