Di acara kami, 16 Agustus nanti, ada satu sesi yang namanya mungkin paling asing: Chao Du (超度) Untuk “pihak yang memiliki ikatan karma dengan kita.“ Terdengar abstrak? Tunggu sampai kamu tahu istilah aslinya.
超度 harfiahnya berarti: “menyeberangkan.”
Mengantar seseorang menyeberang, dari penderitaan menuju ketenangan.
Dalam tradisi Tionghoa, istilahnya: 冤親債主(yuanqin zhàizhu). Harfiahnya: 冤(yuan) yang memusuhi kita, 親 (qin) yang mengasihi kita, 債 (zhài) yang kepadanya kita berutang. Dan sekarang perhatikan sesuatu.
Musuh dan kerabat berada di dalam satu istilah yang sama. Kenapa? Sebuah liturgi tua menjawabnya.
「一切怨對,皆從親起」
Yīqiè yuàn duì, jie cóng qin qi
“Semua permusuhan lahir dari kedekatan.” Dan lanjutannya, bila dua orang tinggal berjauhan di negeri berbeda, mereka takkan pernah saling membenci.
Kebencian justru tumbuh karena dekat.
Yang paling dalam melukai kita hampir selalu orang yang paling dekat dengan kita. Keluarga, sahabat, pasangan, rekan. Musuh & kerabat sering kali adalah orang yang sama.
Sebelum lebih jauh, izinkan kami sangat jelas. Chao Du bukan ritual pengusiran. Kami tidak mengajarkan bahwa kesialan, penyakit atau kegagalanmu disebabkan oleh makhluk lain. Kami tidak menakut-nakuti, dan ini bukan “bayar supaya aman.” Itu bukan Dharma.
Ia adalah sebuah praktik melepaskan.
Melimpahkan kebajikan, bukan hanya kepada mereka yang kita cintai, tapi juga kepada mereka yang pernah kita lukai, dan yang pernah melukai kita.
Dalam Dhammapada, Buddha berkata:
“Kebencian tidak pernah reda oleh kebencian di dunia ini. Hanya oleh tanpa-kebencian, kebencian mereda. Inilah hukum abadi.” (Dhammapada 5)
Dari kebajikan yang kita limpahkan, sebagian besar justru kembali kepada yang melakukannya.
Artinya ketika kita mendoakan orang yang pernah menyakiti kita, yang paling terbebas dari beban itu adalah kita sendiri.
Leave a Reply