Kita menengok ke Thailand, Myanmar, Taiwan, Tibet, seolah pusatnya selalu di tempat lain. Padahal ada satu orang yang menyeberangi laut ke arah sini.
Atiśa Dipamkara Śrījñāna (982-1054).
Bangsawan Bengal. Belajar di Nalanda dan Vikramaśīla. Tokoh yang kelak mengukuhkan kembali ajaran Buddha di Tibet dan sebelum ke Tibet, ia ke sini dulu.
Menurut riwayat, tiga belas bulan di laut. Badai, tersesat arah, rombongan besar di atas kapal dagang. Lalu ia tinggal di Sumatra selama dua belas tahun.
Kata pengantar Dalai Lama, 15 September 2004, untuk sebuah buku berbahasa Indonesia:
“Pembaca mungkin baru mengenal Tibet, tapi orang Tibet sudah lama mengenal Indonesia.”
Dharmakīrti, di Tibet dikenang sebagai Lama Serlingpa, Lama dari Pulau Emas. Dan menurut dokumen itu, gurunya inilah yang membangkitkan hati welas asih seorang Bodhisattva dalam diri Atiśa, yang oleh orang Tibet dipandang sebagai inti praktik Buddha.
Perhatikan apa yang ia seberangi laut selama tiga belas bulan untuk mendapatkannya. Bukan kitab, bukan filsafat, bukan tantra. Cara peduli pada orang lain. Itu yang harus dipelajari dua belas tahun di seberang samudra.
Atiśa menulis lebih dari dua ratus karya. Ia membangkitkan kembali Dharma di satu negeri utuh. Dan yang ia akui sebagai warisan gurunya dari Sumatra? “Sedikit kehangatan hati yang aku miliki.” Cuma itu. Dan justru itu yang paling sulit didapat.
Angka 13 bulan dan 12 tahun berasal dari riwayat tradisi Tibet, bukan catatan arsip. Dan Suvarnadvipa bukan Republik Indonesia, itu Nusantara, bukan negara modern.
Tapi ini tetap berdiri seribu tahun lalu, tempat ini pernah jadi tempat orang berguru. Bukan tempat menunggu kiriman ajaran.
Kita bukan pinggiran yang baru belajar. Kita keturunan dari sebuah ruang kelas yang orang seberangi samudra untuk mencapainya. Dan yang diajarkan di ruang kelas itu adalah cara peduli.
Leave a Reply