Event

Berandachevron-nextWoman Melihat Cara Pandang Islam dan Buddha Tentang Sosok Perempuan

Agama Islam sudah menegaskan bahwa perempuan itu adalah manusia. Artinya, tindakan apa pun yang tidak manusiawi kepada perempuan itu bertentangan dengan agama. Makanya, perempuan itu tidak boleh dianggap sebagai hamba laki-laki, karena di hadapan Tuhan, antara laki-laki dan perempuan itu sama, yaitu sama-sama hamba Tuhan. Hal ini diungkapkan Nur Rofiah yang merupakan Pengurus Majelis Musyawarah KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia) dalam kajian lintas agama bertema ‘Kemanusiaan Penuh Perempuan’ perspektif agama Islam dan Buddha, yang digelar Young Buddhist Association bersama studiagama.id.
 
“Nah, Islam itu arti generiknya pasrah total kepada Tuhan. Keislaman kita adalah proses terus menerus untuk membuktikan kepasrahan total hanya kepada Tuhan dengan berbuat kepada semua penciptaan-Nya, termasuk kepada seorang perempuan,” kata Nur, Selasa (24/1).
 
Menurutnya, kemanusiaan penuh perempuan itu adalah kemanusiaan yang memastikan pengalaman biologis perempuan tidak makin sakit, dan memastikan kerentanan sosial untuk mengalami tindakan yang tidak manusiawi tidak pernah terjadi.
 
“Inilah prasyarat bagaimana kita semua mendudukkan perempuan itu dalam sistem utuh sebuah kehidupan,” tukasnya.
 
Meski begitu, ia pun menyadari bahwa hidup itu adalah proses, keadilan hakiki itu juga sebuah proses panjang. Tapi yang paling penting adalah kesadaran diri sendiri, lalu dengan sengaja berperan aktif menjadi versi diri yang terbaik dalam hal apa pun.
 
“Akhirnya, aku manfaat maka aku ada. Mudah-mudahan semua perempuan di Indonesia mendapatkan kemanusiaan yang seutuhnya,” tandasnya.
 
Pada kesempatan itu, tokoh agama Buddha Attasilani Gunanandini menjelaskan perempuan pada masa kehidupan Buddha, yang pada saat itu masih dipengaruhi oleh peradaban sebelumnya, di mana perempuan itu dianggap sebagai sesuatu yang nomor dua bukan primer. Namun, sebenarnya saat itu cara pandang Buddhis berbeda dengan konstruksi sosial masyarakat masa itu, karena Buddhis sendiri atau cara pandang agama Buddha melihat bahwa perempuan itu adalah sepenuhnya manusia.
 
“Manusia dalam konteks agama Buddha berasal dari manu dan usa. Manu itu yang punya pikiran, dan usa itu adalah yang kualitasnya bisa meningkatkan levelnya. Jadi, bisa dikembangkan dalam level yang tanpa batas, baik perempuan maupun laki-laki,” jelas Attasilani.
 
Menurutnya, memang ada perbedaan secara biologis antara perempuan dan laki-laki. Namun, peran dan kedudukannya tidak berbeda dan hal itu dibuktikan pada masa kehidupan Buddha sendiri. Bahkan, perempuan itu diangkat statusnya oleh sang Buddha dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dan spiritual.
 
“Jadi, perempuan itu bisa memiliki kemampuan intelektual dan spiritual yang sama dengan laki-laki,” ujarnya.
 
Di agama Buddha, lanjutnya, ada dua jenis kehidupan yang dianjurkan oleh sang Buddha. Pertama, kelompok yang menjalani kehidupan rumah tangga layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Kedua, kelompok yang meninggalkan rumah tangga, tujuannya bukan hanya tidak berumah tangga, tapi punya tujuan spiritual tertinggi yang artinya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
 
“Pada saat sekarang ini pun, Buddhis sendiri memberikan keleluasaan terhadap peran perempuan dalam memilih kehidupan mereka, mengembangkan potensi mereka mau jadi apa, dan berkarya seperti apa. Tujuannya agar perempuan ini memiliki kebebasan dalam mengembangkan dirinya. Ini sangat baik karena perempuan diposisikan sebagai manusia seutuhnya dalam konteks ajaran Buddha,” paparnya. 
 
Oleh karena itu melalui pertemuan dan kajian ini Attasilani berharap dapat menyadarkan semua perempuan dan dapat mengambil pelajaran.
 
“Semoga pertemuan ini bermanfaat bagi kita semua, dan kemanusiaan bagi seorang perempuan semakin utuh,” tegasnya.
 
Sementara itu, Wakil Ketua Young Buddhist Association Limanyono Tanto, mengatakan pertemuan semacam ini sangat perlu dihadirkan di tengah-tengah muda-mudi Indonesia untuk saling mengenal antar ajaran. Tujuan akhirnya agar tercipta moderasi dan tenggang rasa antar umat beragama.
 
“Nah, dari situlah kami berharap rasa persaudaraan dan rasa saling menjaga sebagai saudara antar sesama manusia bisa tercipta di tengah momen Imlek ini,” katanya.
Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TRANSLATE