Ternyata Juga Merupakan Hasil Terjemahan?
Kumarajīva dan Xuanzang, yang membawa pulang 657 naskah dari India, menerjemahkan sutra ke bahasa Tionghoa: bahasa yang dimengerti masyarakat waktu itu.
Jadi membaca sutra dalam bahasa sendiri bukan hal baru, itu justru cara sutra sampai kepada kita.
Bahkan hal ini pernah terjadi di zaman Buddha.
Dua bhikkhu kelahiran brahmana mengadu bahwa para bhikkhu dari berbagai daerah “merusak” sabda Buddha karena melafalkannya dalam dialek masing-masing.
Usul mereka:
seragamkan ke bahasa Veda, bahasa suci yang bergengsi.
Buddha menolak dan menegur mereka.
Alasannya: cara itu “tidak akan menuntun pada berpalingnya mereka yang belum berpaling.”
Yang menolak mengunci Dharma di satu bahasa suci adalah Buddha sendiri (Vinaya, Cullavagga V.33).
Ini bukan berarti melafal dalam Mandarin, Pali, atau Sanskrit itu keliru, sama sekali tidak.
Bahasa asal punya nilainya sendiri:
ketepatan transmisi, pelestarian, dan persatuan umat lintas negara (dan kami tetap menjalankan Shang Gong dan Sanghadana dalam tradisi Mahāyāna). Yang kami tambahkan bukan pengganti, melainkan pintu masuk.
Besar harapan kami sekaligus keluarga besar YBA, harapannya sederhana: “setelah pulang, seseorang mungkin menelepon orang tuanya, meminta maaf, atau lebih sadar terhadap konsekuensi tindakannya.” Itulah alasannya.
Bukan supaya sutranya terdengar indah, tapi supaya isinya sampai ke rumah.
Satu kalimat sutra apa yang paling nempel di kepalamu kemarin? Tulis di komentar.
Leave a Reply