NOH: SAKSI BISU PENGHANCURAN AJARAN BUDDHA DI JEPANG

NOH: SAKSI BISU PENGHANCURAN AJARAN BUDDHA DI JEPANG

NOH adalah salah satu bentuk seni tradisional Jepang yang sangat khas dan bersejarah. Noh merupakan seni yang sangat berharga dalam budaya Jepang, dan pertunjukan Noh masih dihargai dan dilestarikan hingga hari ini. 

Seni ini menggabungkan unsur-unsur teater, musik, tari, dan seni visual dengan cara yang sangat unik, menciptakan pengalaman budaya yang mendalam dan kaya. 

 

Pada masa Kaisar Meiji posisi ajaran Shinto secara politik meningkat di Jepang. Daimyo dari era shogun samurai menghancurkan tanah dan perlengkapan panggung Noh. Fenollosa seorang penulis orientalis Amerika, mempublikasikan foto tumpukan rupang Buddha, bodhisattwa, dan topeng kayu yang akan dijadikan kayu bakar. 

Sentimen anti-Buddha muncul. Pengetahuan tentang nilai seni Noh dan keagamaannya hampir hilang. 

 

MODERNISASI MEIJI 

pembukaan kepada dunia setelah berabad-abad pemerintahan Shogun Tokugawa. Secara sederhana: kaisar adalah Shinto, shogun adalah Buddha. Sejarah Jepang adalah suksesi dua jenis pemerintahan ini. Seiring berjalannya waktu, orang Jepang dengan mudah mengadopsi Buddha serta agama Shinto asli mereka. Pilihan agama bergantung pada agama pemimpin yang berkuasa. Noh memiliki akar asli budaya Jepang, tetapi pada dasarnya menjadi kesenian Buddhis setelah abad ke-14. 

 

MASA GELAP 

bagi kesenian Noh yang kental unsur Buddhis terjadi di era Kaisar Meiji. 

Berikut rangkuman nilai Buddhis dalam Noh; 

(1). Beberapa cerita dalam pertunjukan Noh berkaitan dengan tokoh-tokoh Buddha atau cerita-cerita agama Buddha. Misalnya, ada pertunjukan Noh yang menggambarkan kehidupan Buddha Siddhartha Gautama atau cerita-cerita lain yang terkait dengan agama Buddha.

(2). Dalam Noh, aktor sering mengenakan topeng yang menggambarkan karakter-karakter tertentu, termasuk karakter-karakter agama Buddha seperti bodhisattwa atau makhluk alam lain yang terkait dengan agama Buddha. 

(3). Musik dalam Noh sering menggambarkan suasana spiritual, dan alat musik tradisional seperti nohkan (seruling bambu) digunakan untuk mengiringi pertunjukan. Musik ini bisa menciptakan atmosfer yang mengingatkan pada ritus agama Buddha.

(4). Beberapa, pertunjukan Noh menggambarkan ritus atau pemujaan yang terkait dengan agama Buddha. Ini bisa mencakup adegan di kuil Buddha atau persembahan kepada para Dewa.

(5). Meskipun Noh, bukanlah bentuk teater agama yang khusus, banyak pertunjukan Noh menggambarkan emosi dan nilai-nilai yang terkait dengan agama Buddha, seperti belas kasih, upaya tentang pencerahan, atau fokus ke dalam pikiran/batin. 

 

Sumber: buddhistdoor.net 

 

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TRANSLATE

 

VESAK FESTIVAL 2024 & SANGHADANA

 

SURABAYA
22 - 26 Mei 2024
Main Atrium, Tunjungan Plaza 3

 

JAKARTA
29 Mei - 2 Juni 2024
Center Atrium, Mal Taman Anggrek

 

BCA 088 880 7988
a.n. Yayasan Muda Mudi Buddhis Bersatu

Yayasan Muda Mudi Buddhis Bersatu
BCA KCU Darmo Surabaya (CENAIDJA)
088.880.7988

Yayasan Muda Mudi Buddhis Bersatu
BCA KCU Darmo Surabaya (CENAIDJA)
088.880.7988