Event

Pandangan 3 Tokoh Agama di Surabaya Tentang Pentingnya Moderasi Beragama

Dalam era globalisasi dan interaksi antarbudaya yang semakin intens, keberagaman agama menjadi kenyataan yang harus dihadapi. Tiga tokoh agama di Surabaya mengungkapkan pandangannya tentang moderasi beragama di Indonesia.

 

Ketiga tokoh agama tersebut berbagi pandangan melalui kegiatan kajian lintas iman atau lintas agama yang membahas tentang moderasi beragama dalam pandangan agama-agama: apakah moderasi beragama bertentangan dengan ajaran agama? Kajian yang digelar via online oleh Young Buddhist Association Indonesia (YBAI) bersama studiagama.id itu menghadirkan tokoh-tokoh dari agama Buddha, Kristen, dan juga Hindu.
 
Dalam kesempatan tersebut, tokoh agama Buddha Bhikkhu Dhammasubho Mahathera menyampaikan pendapatnya tentang moderasi agama versi agama Buddha. Menurutnya, dalam ajaran buddha ada majjhima patipada yang merupakan jalan tengah atau juga Middle Way, karena Sidharta itu adalah orang yang antitesis atau anti kemapanan.
 
“Sidharta menjalani pertapaannya yang bermacam-macam. Di ujung pertapaannya, akhirnya dia menemukan satu jalan tengah di antara ekstrimis kemewahan duniawi dan ekstrimis penyiksaan diri yang hebat. Jalan tengah itu terdiri dari delapan unsur, pengertian benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar,” jelasnya, Senin (10/7).
 
“Itulah jalan tengah,” imbuhnya.
 
Sedangkan berdasarkan agama Kristen, Pendeta Aryanto Nugroho yang merupakan pimpinan Gereja JAGI juga menyampaikan pandangannya. Menurutnya, Guru Agung Yesus Kristus hadir di tengah-tengah orang Yahudi yang sangat sektarian dan membenci orang non Yahudi. Makanya, saat itu dia melakukan reformasi antara orang Yahudi dengan orang non Yahudi.
 
“Yesus Kristus menunjukkan bahwa relasi keberagamaan dengan Allah-nya itu tidak perlu memutus hubungan dengan sesama manusia,” tukasnya.
 
Sementara itu, tokoh agama Hindu KA. Widiantara yang merupakan Ketua Acarya Media Nusantara mencermati bahwa apa yang dipaparkan oleh Bhikku dan Pendeta itu nilai-nilai dan saripatinya sebenarnya hampir mirip secara substansinya, meskipun istilahnya berbeda.
 
“Jadi, nilai-nilai yang disampaikan dari agama masing-masing sebenarnya sebelah dua belas substansinya, meskipun istilahnya berbeda,” katanya.
Ia juga menjelaskan moderasi beragama dari versi agama Hindu. Menurutnya, di Hindu itu ada istilah titik harmoni. Bahkan, di Hindu itu ada konsep Tri Hita Karana yang merupakan konsep atau ajaran dalam agama Hindu yang selalu menitikberatkan bagaimana antara sesama bisa hidup berdampingan, saling bertegur sapa satu dengan yang lain, tidak ada riak-riak kebencian, penuh toleransi dan penuh rasa damai.
 
“Tri Hita Karana inilah yang menyebabkan kita hidup di dunia ini harmonis tanpa melihat latar belakangnya,” tegasnya.
 
Ketiga tokoh agama ini sepakat bahwa moderasi beragama itu sangat penting. Bahkan, ketika ditanya apakah moderasi beragama itu bertentangan dengan ajaran agama? Ketiganya menjawab tidak bertentangan dan malah sebaliknya bahwa moderasi beragama itu sebenarnya sudah diajarkan dalam agama.
Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TRANSLATE