Y.M. Bhante U Maṅgala.
Guru meditasi senior, asal Malaysia.
Murid senior Pa-Auk Sayadawgyi. Ditahbis 1996 di Pa-Auk Forest Monastery, Myanmar.
Setelah 1 dekade latihan intensif Samatha-Vipassanā ditunjuk sebagai guru meditasi Pa-Auk (2006).
Kini pembimbing spiritual, Dhamma Earth.
Sejak 2023, ada rencana memasang sebuah
Chattra – payung logam berlapis emas di puncak stupa induk Borobudur. Dan perdebatan pun berkobar. “Apakah Chattra itu asli?” Tapi Bhante U Maṅgala, mengajukan pertanyaan yang berbeda.
Beliau tidak bertanya: “asli atau tidak?”
Beliau bertanya: “Mengapa ini begitu penting bagi kita. di kedua sisi untuk dibangun atau tidak dibangun?”
Maka melekat padanya entah untuk mendukung entah untuk menolak adalah keliru mengira rakit sebagai pantai. Apapun yang dapat memecah Sangha perlu direnungkan.
Bhante U Mangala mengingatkan perpecahan karena keterikatan pada bentuk tidak membawa manfaat bagi Dhamma.
Kita dapat melekat ketika mendukung Chattra.
Kita juga dapat melekat ketika menolaknya.
Bendera bukanlah negara.
Bendera adalah bentuk yang disepakati untuk mewakili negara.
Begitu pula Chattra.
Ia dapat menjadi simbol Buddhis dan membangkitkan keyakinan.
Namun Chattra bukanlah Dhamma itu sendiri.
Tak ada konsensus bahwa Chattra pernah memahkotai Borobudur asli. Van Erp sang perestora membongkarnya sendiri.
Studi 2025, Stupa satu zaman dengan Candi Mendut, Candi Sewu, Candi Pawon, dan Candi Plaosan, semuanya tanpa Chattra. ICOMOS Indonesia & World Heritage Watch menyoroti keaslian & transparansi.
Semua hal yang terbentuk adalah tidak kekal. Termasuk monumen, simbol, tradisi, lembaga, pendapat dan pandangan kita sendiri.
Masalahnya bukan pada penggunaan sebuah bentuk. Masalahnya muncul ketika kita menganggap bentuk sebagai tujuan akhir.
Tidak.
Tidak melekat bukan berarti membiarkan keputusan apa pun berjalan tanpa kritik.
Kita tetap dapat bertindak untuk melindungi Borobudur.
Namun tindakan itu perlu didasarkan pada bukti, kehati-hatian, konsultasi dan kepedulian terhadap dampaknya.
Chattra bukan otomatis suci atau salah.
Pertanyaannya:
• Apakah pemasangannya memiliki dasar arkeologis yang kuat?
• Apakah risikonya sudah dikaji?
• Apakah para ahli dan komunitas telah dilibatkan?
• Apakah prosesnya membawa harmoni?
Kebijaksanaan, welas asih, kejujuran dan sikap tidak melekat adalah bagian yang tidak boleh hilang dari prosesnya.
Jangan sampai keterikatan pada simbol mengalahkan kebijaksanaan dalam menjaga Borobudur.
Menurut Anda, apa langkah paling bijak untuk Borobudur?
Diadaptasi dari tulisan:
“All Forms Are Impermanent: A Buddhist Reading of the Borobudur Chattra Debate”
Penulis:
Catalin Ivancov
ICOMOS Indonesia
Leave a Reply