Pertama-tama mari kita luruskan: “Ya.”
Kamu memang bisa melimpahkan jasa setiap hari.
Tanpa acara, Tanpa biaya, Tanpa menunggu tanggal tertentu. Namanya pattidāna, harfiahnya:
“memberikan apa yang telah diperoleh.”
Lakukan kebajikan apa pun: berdana, menjaga sila, membaca sutra, meditasi, atau menolong orang.
Lalu limpahkan dalam hati: “Semoga kebajikan ini berbuah bagi ayah & ibuku serta semua leluhurku.”
Selesai, Sesederhana itu
Dan indahnya praktik ini ada di semua tradisi Buddhis:
● Pali: pattidāna
● Sanskerta: pariṇāmanā
● Tionghoa: 回向 (huíxiàng)
● Jepang: 回向 (ekō)
● Tibet: ngowa
● Vietnam: hôi hướng
Satu Dharma, banyak bahasa.
Yang sering terlewat, melimpahkan jasa tidak mengurangi kebajikanmu seperti lilin yang menyalakan lilin lain.
Tapi ada syaratnya yang menerima perlu bersukacita (anumodanā). Maka lakukanlah dengan hati yang hangat bukan sekadar kewajiban.
Karena Buddha mengajarkan sesuatu tentang “Ladang.” Benih yang sama ditanam di tanah yang berbeda memberi panen yang berbeda.
Dan “ladang” ini bukan kiasan yang kami karang.
Dalam perenungan Sangha, Sangha disebut:
“anuttaraṃ puññakkhettaṃ lokassa” / “ladang jasa yang tak tertandingi bagi dunia.”
Dalam tradisi Tionghoa 福田 (fú tián) ladang jasa.
Dan ada perbedaan yang Buddha tegaskan sendiri adalah persembahan kepada Sangha sebagai sebuah “himpunan” berbeda dari persembahan kepada “perorangan”.
Kata Buddha persembahan kepada Sangha adalah “tak terhitung, tak terukur.” (Dakkhināvibhanga Sutta, MN 142)
Karena hari ke-15 bulan ke-7 adalah hari
Pravarāṇā – penutup masa vassa.
Hari ketika para Bhiksu baru saja menyelesaikan tiga bulan latihan intensif. Ladangnya sedang paling subur. Itulah sebabnya Buddha menyuruh Maudgalyāyana menunggu hari itu.
“Pattidāna” adalah menanam setiap hari dan kamu harus melakukannya. “Ullambana” adalah menanam di ladang tersubur pada musim yang tepat. Bukan yang satu lebih baik dari yang lain.
Keduanya benih yang sama.
Leave a Reply