Ketika anabul kita pergi, sering kali dukanya tidak punya tempat. Tidak ada cuti, tidak ada pemakaman, dan tidak jarang kita mendengar: “cuma anjing atau kucing kok.”
Tapi ada satu kata dalam sutta yang menjawab semua itu. Dalam Karaniya Metta Sutta, Buddha tidak berkata: “semoga semua manusia berbahagia.” Beliau berkata: “sabbe satta”, semua makhluk, dan menambahkan satu kata: Anavasesa.
Anavasesā
Artinya: Tanpa Kecuali.
Dan daftarnya sengaja dibuat lengkap: panjang atau besar, sedang, pendek, kecil, atau halus, terlihat maupun tak terlihat, yang tinggal jauh maupun dekat. Baca ulang: Anabulmu ada di dalam daftar itu, sejak awal.
Dan perumpamaan yang dipakai sutta itu untuk mencintai semua makhluk adalah: “Bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya melindungi anaknya, anak tunggalnya.” Jadi kasih sayangmu bukan berlebihan, ia justru model yang dipakai sutta.
Tapi pertanyaan yang paling sering muncul: “Di mana dia sekarang?” Dan kami akan menjawabnya dengan jujur.
Kita tidak tahu dan justru itulah sebabnya rumusan pelimpahan jasa selalu berbunyi: “ke mana pun mereka berada.”
Adalah kisah tentang seseorang yang orang terkasihnya sudah tidak berwujud seperti yang ia kenal. Ibu Maudgalyayana terlahir dalam wujud lain.
Ia mencoba memberinya makanan, tidak bisa, tapi jasanya tetap sampai.
Karena masalahnya bukan bahwa kita terlalu melekat. Masalahnya: tidak ada tempat untuk menaruhnya dan pelimpahan jasa memberi cinta itu sebuah tujuan.
(Dan perbuatan baik itu sendiri tetap menjadi kebajikan bagimu.)
Dan kalau kamu sempat bertanya: “apakah dia terlahir sebagai hewan karena karma buruk?”, tolong jangan menyimpulkan itu. Buddha sendiri menyatakan keliru pandangan bahwa “segala yang dialami disebabkan perbuatan masa lalu.”
Delapan sebab, karma yang kedelapan dan lagi pula, tujuan kita bukan mendiagnosis, melainkan mengasihi.
Leave a Reply