Doa punya ruangnya.
Sambutan punya ruangnya.
LPJ juga punya ruangnya.
Ketika semuanya bercampur, kita perlu bertanya: ini sedang berdoa, atau sedang melaporkan keberhasilan?
Ada angka, capaian, program, dan persentase di dalamnya.Kalau terlalu banyak, doa mulai terdengar seperti LPJ.
Coba dengarkan porsinya.
• Berapa banyak kalimat tentang keberhasilan?
• Berapa banyak doa untuk mereka yang masih kesulitan?
Padahal doa untuk negeri seharusnya cukup luas untuk memeluk mereka yang bahkan namanya tidak pernah disebut di podium.
• Tidak ada yang kehilangan.
• Tidak ada yang sedang sakit.
• Tidak ada yang kesulitan.
• Tidak ada yang merasa tertinggal.
Doa untuk sebuah negeri seharusnya juga mengingat mereka yang sedang tidak baik-baik saja.
Seandainya kursi depan kosong, apakah doa itu akan berbunyi sama?
Atau berubah?
Dalam AN 5.198,
ucapan yang baik memiliki lima kualitas: tepat waktu, benar, lembut, bermanfaat, dan lahir dari niat baik.
“Benar” hanya satu dari lima.
Kita tidak tahu isi hati orang lain. Dalam Buddhisme, cetanā atau niat batin pertama-tama diperiksa pada diri sendiri. Jadi jangan menebak niat.
Periksa yang bisa kita lihat:
kata-katanya, isinya, porsinya, dan manfaatnya
Kami pun mengadakan acara.
Kami pun memakai doa pembukaan.
Maka lima pertanyaan ini bukan hanya untuk orang lain. Ini juga checklist untuk kami sendiri
Ia cukup jujur untuk melihat kenyataan, cukup lembut untuk tidak melukai, dan cukup berani untuk membela kemaslahatan bersama
Karena doa untuk negeri seharusnya tidak bertanya: “Siapa yang harus dibuat senang?”
Tetapi: “Siapa yang belum kita dengar?”
Kalau kursi depan kosong, semoga doa kita tetap sama. Karena doa yang tulus membela kebenaran, bukan menyenangkan kekuasaan.
Leave a Reply