Pemilihan Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet. adalah tradisi sakral yang melibatkan pencarian anak yang diyakini sebagai reinkarnasi Avalokiteshvara. Prosesnya rumit, melibatkan tanda spiritual, visi dari danau suci, hingga pengujian benda peninggalan Dalai Lama sebelumnya. Namun, tradisi ini kini menjadi pusat konflik otoritas antara komunitas Tibet di pengasingan dan pemerintah Tiongkok.
Dalam ajaran Buddha Tibet, Dalai Lama adalah tulku, yang memilih bereinkarnasi. Setelah Dalai Lama wafat, lama senior mencari petunjuk spiritual, seperti visi atau pertanda alam. Tim pencari menemukan anak yang lahir setelahnya, mengujinya dengan benda-benda milk Dalai Lama terdahulu. Jika beberapa calon ditemukan, kadang digunakan undian Guci Emas, sebuah metode yang kemudian diadopsi pada era Qing. Proses panjang ini memastikan keaslian reinkarnasi secara spiritual.
Sejarah mencatat campur tangan politik dalam pemilihan Dalai Lama, terutama oleh Dinasti Qing Tiongkok. Kaisar Qianlong memperkenalkan metode Guci Emas pada 1792 untuk mencegah manipulasi. Setelah Qing runtuh, Tibet sempat mandiri dalam memilih Dalai Lama ke-13 dan ke-14. Namun, ketika RRT menguasai Tibet, Beijing mengklaim hak warisan atas proses ini. Pada 2007, Tiongkok menerbitkan peraturan yang mewajibkan izin pemerintah untuk setiap reinkarnasi ‘Buddha Hidup”, menegaskan kontrol negara atas urusan agama.
Motif utama Tiongkok mencampuri pemilihan Dalai Lama adalah politik dan keamanan nasional. Beijing melihat Dalai Lama sebagai simbol perlawanan dan ingin mengontrol penerusnya agar tidak mengancam kekuasaan mereka di Tibet. Tiongkok bersikeras merekalah yang berhak menunjuk Dali Lama berikutnya, mengutip “tradisi kekaisaran Qing” dan mewajibkan calon lahir di wilayah Tiongkok.
Beijing bahkan telah mempersiapkan Panchen Lama versi mereka untuk mengesahkan Dalai Lama pilihan Partai, menciptakan skenario “dua Dalai Lama” seperti yang terjadi pada Panchen Lama 1995.
Konflik tak terhindarkan: Tibet menganggap pemilihan spiritual, Tiongkok melihatnya sebagai urusan negara. Dalai Lama ke-14 menegaskan hanya ia yang berhak menentukan reinkarnasinya, menolak campur tangan pihak mana pun, termasuk Beijing. la bahkan mengisyaratkan reinkarnasinya mungkin lahir di “negara bebas”, Ia mendesak umat menolak calon pilihan Tiongkok. Isu ini kini jadi topik geopolitik global.
Leave a Reply