Menuju arahant membebaskan dirimu, tuntas?
Atau menjadi bodhisattva, menjadi Buddha demi semua?
Pernah diam-diam merasa jalanmu “kurang tinggi”?
Tarik napas, Mari lihat dengan jujur.
Arahant:
“Telah selesai apa yang harus diselesaikan, Beban telah diletakkan.”
Sepuluh belenggu habis, Api serakah, benci, bodoh, padam. Ini bukan keegoisan, Ini kebebasan.
Bodhisattva:
Menunda istirahat pribadi, bertekad menjadi Buddha demi membebaskan semua makhluk.
Kata Sutra Teratai: tiga kendaraan, sejatinya satu, semua menuju Kebuddhaan.
Sebagian sutra Mahāyāna menyebut jalan arahant “lebih kecil”. Bahkan arahant, katanya, kelak menempuh jalan Buddha juga. Kita sebut ini apa adanya sebagai sejarah ide, bukan untuk memecah lagi.
Tapi ingat, Buddha sendiri adalah arahant.
Araham Sammā-Sambuddha.
Isi pencerahan keduanya tak berbeda dan Theravāda pun menjunjung bodhisattva tertinggi, Gotama dahulu, sang Bodhisatta.
Hindari dua jebakan:
• “Elitisme” merasa jalanku lebih tinggi.
• “Purisme” menolak semua yang datang belakangan.
Keduanya terpaksa menutup mata pada kebenaran yang tak nyaman.
Yang sering terlupa: keduanya menatap sosok yang sama yaitu Buddha.
Yang satu meneladani pembebasannya.
Yang lain meneladani perannya menolong dunia.
Beda sudut pandang.
Satu teladan.
Bebaskan dirimu sepenuhnya dan biarkan welas asihmu meluas tanpa batas. Bukan melebur beda tapi saling menghormati.
Leave a Reply