Tapi tahukah kamu? Jauh sebelum ia berjubah, namanya adalah Djamal Bakir.
Dan ia adalah… seorang guru.
Beliau seorang guru, yang sempat juga ditawari menjadi pegawai bank.
Ketika menjadi guru di
Saat harus memilih, ia memilih… mengajar.
Katanya:
“Kalau di bank, uangnya banyak, tapi hanya untuk perut sendiri. Kalau mengajar, ilmunya dibagi ke orang banyak.”
Tahun 1977, dari 14 calon, ia terpilih oleh Pemerintah RI untuk menjadi kepala sekolah masyarakat Indonesia di Myanmar.
Selama lima tahun.
“Di situlah saya mempelajari agama Buddha lebih dalam. Saat libur sekolah, saya ke wihara dan menjadi biksu di sana.”
Benih jubah itu tumbuh, di tanah Myanmar.
Lalu, di usia 56 tahun, ia mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya:
melepas segalanya dan pada 1987, ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu.
yang lama tertidur sejak runtuhnya Majapahit.
Bersama tokoh seperti Herman S. Endro pendiri Gerakan Pemuda Buddhis Indonesia, & anggota pendiri Yayasan Dhammadipa Arama.
Sebuah generasi yang menanam, agar kita hari ini bisa berteduh.
Dan inilah masterpiece beliau.
Tahun 1992, ia datang ke sebuah tempat sederhana di Batu.
Dulu, tempat itu bernama “Weluwana”, hutan bambu. Karena semua bangunannya terbuat dari bambu.
Dari sanalah, sedikit demi sedikit, ia membangun apa yang kini kita kenal sebagai…
Kini, salah satu pusat pelatihan bhikkhu & Dhammaduta terpenting di Indonesia, dengan Pagoda Hwedagon yang megah.
Sebuah hutan bambu, yang tumbuh menjadi sebuah mercusuar Dhamma.
(“Dhammadipa” = pulau, cahaya, Dhamma)
“Hidup bukanlah untuk mencari makan, tetapi untuk mengembangkan kebaikan bagi sesama.”
Dari guru ilmu, menjadi guru Dhamma. Seorang guru, sampai akhir.
Kaya, tanpa harta.
Terima kasih, Bhante, atas teladan, kebijaksanaan, & pengabdian seumur hidup. Dan Bhante, kami semua mendoakan, semoga Bhante segera pulih, sehat, & kuat kembali.
Sadhu, sādhu, sādhu.
Kirimkan doa & ucapanmu untuk Bhante di komentar
Leave a Reply