Ajaran Buddha bukan soal kaku pada aturan, tapi tentang welas asih dan kebijaksanaan. Kisah biksu tua yang tetap tenang saat disuguhi daging menunjukkan bahwa menjaga hati orang lain kadang lebih mulia daripada mempertahankan prinsip pribadi.
Kisah Biksu Tua dan Hidangan Daging. Master Chin Kung menceritakan kisah seorang biksu tua yang diundang makan oleh tiga umat yang pernah ia tolong. Tanpa sengaja, mereka menyajikan hidangan daging babi. Sang biksu, tanpa menyalahkan, tetap makan bersama mereka dengan tenang, menunjukkan welas asih dan tidak ingin melukai perasaan umat yang berniat baik.
Sikap Welas Asih sebagai Upaya Bijaksana Tindakan biksu tua itu tidak dianggap melanggar sila, melainkan sesuai dengan prinsip “welas asih sebagai dasar dan upaya bijaksana sebagai metode. la memakai salah satu dari Empat Metode Menarik Hati dalam ajaran Buddha, yakni membahagiakan orang lain, demi menjaga keyakinan umat terhadap ajaran Buddha.
Master Chin Kung menganjurkan pola makan vegetarian atas dasar welas asih dan kesehatan, namun ia tidak dogmatis. Dalam ajaran Murni, tidak ada kewajiban menjadi vegetarian untuk mencapai kelahiran di sukhavati. Di zaman Buddha, biksu makan apa pun yang diberikan tanpa pilih-pilih, asalkan tidak terlibat dalam pembunuhan langsung.
Vegetarianisme menjadi tradisi di kalangan Buddhis Tiongkok sejak masa Kaisar Liang Wu Di yang tersentuh oleh ajaran sutra. la memopulerkan vegetarianisme karena welas asih. Master Chin Kung menekankan pentingnya memahami latar belakang ini agar umat tidak memaksakan pandangan vegetarian kepada umat di luar Tiongkok.
Master Chin Kung menekankan manfaat vegetarianisme secara kesehatan dan etika, namun tetap menganjurkan sikap fleksibel. Dalam situasi sosial, menjaga keharmonisan lebih utama daripada memaksakan prinsip.
Inti ajaran Buddha adalah welas asih dan kebijaksanaan, bukan kekakuan aturan.
Leave a Reply