Banyak dari kita pernah duduk di sebuah upacara, melafal dengan tertib, tapi diam-diam bertanya: “Ini sebenarnya membentuk batinku, atau cuma rutinitas?” Dan kalau kamu pernah berpikir begitu, kamu akan terkejut.
Karena Buddhisme punya istilah khusus untuk masalah itu. Namanya: sīlabbata-paramasa. Dan Buddha tidak menaruhnya sebagai catatan kaki.
Beliau menaruhnya sebagai belenggu ketiga, salah satu dari tiga hal pertama yang harus diputus untuk sekadar memasuki arus (sotāpatti, tahap pertama pencerahan). Artinya: sebelum kamu bisa mengambil langkah pertama, pertanyaan ini harus sudah terjawab
Keyakinan bahwa pelaksanaan ritual itu sendiri sudah merupakan sarana menuju pembebasan, atau bahwa hanya melalui aturan & ritual belaka, seseorang dapat murni.
Yang menjadi belenggu bukan ritualnya.
Kata paramasa artinya: “genggaman yang keliru.”
Bhikkhu Bodhi menerjemahkannya: “genggaman yang terdistorsi.” Jadi bukan ritualnya, melainkan genggamannya.
Karena coba pikir, kalau ritual itu sendiri masalahnya, Buddha tidak akan menetapkan uposatha, tidak akan menetapkan tata cara penahbisan, dan tidak akan ada pembacaan sama sekali. Ritual bukan musuh. Yang jadi soal hanyalah ketika kita mengira ia sudah cukup.
Banyak sesepuh kita melafal dalam bahasa yang tak mereka pahami selama puluhan tahun, dengan bakti yang nyata. Dan sering kali jauh lebih kokoh dari kita yang banyak membaca tapi jarang duduk. Konten ini bukan untuk merendahkan siapa pun.
Ya. Ritual tanpa pemahaman tetap membentuk sesuatu. Bakti itu nyata, keteraturan itu berharga. Tapi ia berhenti di satu titik. Dan yang mengubah rutinitas menjadi latihan adalah pengertian.
Dhammapada mengatakannya dengan tajam: seseorang yang banyak melafalkan kitab suci tapi tidak mengamalkannya, ibarat seorang penggembala yang menghitung sapi milik orang lain. Rajin, tertib, tapi tak satu pun miliknya.
Leave a Reply