Seorang biarawati wafat. Menurut penuturan komunitasnya, setelah kremasi ditemukan ratusan relik kristal. Itu bagian yang akan dibagikan orang. Tapi bagian yang paling mengguncang justru bukan itu.
Namanya Y.M. Huicheng (慧称师父).
Lahir di Provinsi Jiangsu, 1988. Berlatih selama tujuh tahun di bawah bimbingan Khenpo Sodargye di Larung Gar, akademi Buddhis Tibet yang termasyhur.
Dan menjadi biarawati selama hampir enam tahun
Dan inilah yang dikatakan gurunya sendiri tentang beliau: “Ia telah belajar di sini selama enam atau tujuh tahun, tidak terlalu rajin, dan kadang-kadang menunjukkan beberapa penderitaan.” (Khenpo Sodargye)
Hidupnya sederhana. Tak pernah memilih pakaian mewah atau makanan yang rumit. Rutinitas hariannya biasa saja. Setiap hari beliau melakukan seribu sujud, dan..
Dan beliau membantu di ruang makan, setiap hari, membuat yogurt untuk semua orang. (Di sebuah akademi yang penuh ajaran paling mendalam: Dzogchen, Enam Bardo, dan Kesempurnaan Agung.)
Beliau tidak pernah memakai prinsip-prinsip yang mendalam untuk membuat orang lain terkesan, juga tidak pernah melakukan hal-hal yang tak biasa untuk menarik perhatian. Dan tak lama sebelum wafat, beliau membagikan pakaian & barang-barangnya kepada sesama praktisi.
Menjelang ajalnya, gurunya melafalkan Phowa untuk beliau pemindahan kesadaran pada saat kematian, sebuah praktik Vajrayana yang diajarkan Patrul Rinpoche dalam “Kata-kata Guru Sempurna Saya.” Menurut penuturan Khenpo, wajah beliau tampak damai, seolah-olah tersenyum.
Dan setelah kremasi, ditemukan ratusan relik kristal putih. Dalam tradisi Vajrayana, kemunculan ringsel memang disebut sebagai salah satu tanda.
Tapi perhatikan apa yang gurunya sendiri katakan: “Terlepas dari apakah orang lain mempercayainya atau tidak, saya menganggap ini sangat langka.”
Dan inilah pelajaran yang ditulis komunitasnya sendiri: “Kita tidak dapat menilai praktik spiritual seseorang hanya berdasarkan penampilan saja.”
Maka berhentilah diam-diam menilai latihan orang lain. Kamu tidak pernah tahu.
Tapi ada sisi kedua dari pelajaran itu. Kalau seseorang yang gurunya sendiri sebut “tidak terlalu rajin” bisa berakhir seperti itu, maka mungkin latihanmu yang terasa biasa-biasa saja itu lebih berarti dari yang kamu kira. Berhentilah menilai orang lain, dan berhentilah menilai dirimu sendiri.
Dan satu hal terakhir untuk kamu yang mungkin pernah kehilangan seseorang tanpa tanda-tanda apa pun, tanpa senyum, tanpa relik, atau mungkin dalam kesakitan, Tolong jangan menyimpulkan apa pun dari itu.
Karena pesan kisah ini justru kita tidak bisa menilai dan itu berlaku ke dua arah.
Sadhu.
Semoga Y.M. Huicheng berbahagia, dan semoga semua yang kita kasihi tenang.
Leave a Reply