Event

Grand Mindful Connect ke-7: Healing Menurut Ajaran Buddha, 117 peserta temukan kedamaian bersama Bhante Ñāṇukkaṃsa

Sabtu, 04 Juli 2026

Surabaya – 4 Juli 2026 Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering kali memicu stres dan overthinking, menjaga kesehatan batin menjadi sebuah kebutuhan esensial. Merespons hal tersebut, Young Buddhist Association (YBA) sukses menggelar acara bulanan yang sarat makna, Grand Mindful Connect 7 (Grand MICON) pada hari Sabtu, 4 Juli 2026, bertempat di Spazio Buildings, Surabaya.

 

 

Mengusung judul acara “Healing Menurut Ajaran Buddha: Melepaskan Luka Batin, Ekspektasi dan Overthinking”, acara ini berhasil menarik antusiasme 117 orang peserta terdaftar. Bersama Ven. Bhikkhu Ñāņukkamsa, Spiritual Patron of Dhammika Kalyanasahāya (DKS), para peserta diajak menyelami kebijaksanaan Dhamma sebagai jalan pemulihan batin yang sejati.

Mengawali Hari dengan Kebajikan: Sesi Dana Makan di YBA HQ

 

Rangkaian acara hari itu dimulai dengan penuh kekhidmatan pada pukul 09.30 WIB di YBA Headquarters (HQ), Spazio Lantai 5. Setelah briefing panitia dan open gate, suasana sakral mulai terasa saat para peserta melakukan ritual permohonan Sila langsung kepada Bhante.

 

Momen ini dilanjutkan dengan prosesi Dana Makan Siang. Sesi pagi ini tidak hanya menjadi ladang kebajikan bagi para peserta, tetapi juga menjadi momen untuk menumbuhkan ketenangan hati sebelum memasuki sesi materi utama di siang hari.

 

Menyelami Kedamaian Melalui Meditasi Bersama

 

Tepat pukul 12.00 WIB, pusat kegiatan berpindah ke ET Space di lantai 1. Acara dibuka dengan hangat oleh MC dan diselingi ice breaking interaktif menggunakan Mentimeter yang berhasil mencairkan suasana.

 

Sebelum Bhante Ñāņukkamsa memulai pemaparannya, para peserta diajak untuk sejenak melepaskan beban pikiran melalui sesi Meditasi Bersama selama 15 menit. Suasana ruangan seketika menjadi hening dan damai, mempersiapkan kondisi batin yang ideal untuk menyerap Dhamma.

 

Kupas Tuntas Kebijaksanaan Dhamma Talk: Merawat Luka, Melepas Ekspektasi

 

Dalam pemaparannya, Ven. Bhikkhu Ñāņukkamsa menyampaikan materi dengan sangat terstruktur dan menyentuh hati. Berikut adalah beberapa sorotan penting dari Dhamma Talk yang membuka wawasan para peserta:

 

Buddha sebagai Tabib Agung: Bhante menjelaskan bahwa Empat Kebenaran Mulia adalah logika penyembuhan batin yang paripurna. Dimulai dari mengakui adanya luka secara jujur (Diagnosis/Dukkha), memahami akar kemelekatan dan kehausan batin (Penyebab/Tanha), menumbuhkan keyakinan bahwa luka bisa diredakan (Prognosis/Nirodha), hingga menjalankan Jalan Mulia sebagai langkah pemulihan nyata (Resep/Magga).

 

Mewaspadai “Dua Anak Panah”: Mengapa kita sering merasa sangat menderita? Bhante mengingatkan perbedaan antara rasa sakit fisik atau kehilangan yang tak terhindarkan (anak panah pertama) dengan penderitaan batin berupa reaksi penolakan dan menyalahkan diri (anak panah kedua). “Rasa sakit itu tak terhindarkan; penderitaan tambahan adalah pilihan,” pesan beliau.

 

Mettā (Cinta Kasih) untuk Diri Sendiri: Seringkali kita keras pada diri sendiri. Padahal, healing bukanlah menyangkal emosi. Menyangkal adalah bentuk lain dari kemelekatan. Mengutip Udāna 5.1, Bhante berpesan: “Tidak ada yang lebih kita kasihi selain diri sendiri. Maka pantaslah kita memperlakukan diri dengan kasih, bukan kritik.” Semua luka dan emosi itu pun Anicca (tidak permanen); pasti akan berubah dan berlalu.

 

Melepaskan Ekspektasi dan Overthinking: Beban ekspektasi muncul karena kita melekat (Tanha/Upādāna) pada bagaimana hidup, diri kita, atau orang lain “seharusnya” terjadi. Melepas bukan berarti berhenti berusaha, melainkan melepas cengkeraman pada hasil dan menerima kenyataan apa adanya (Yathābhūta). Untuk mengatasi overthinking atau labirin Papañca (proliferasi pikiran yang memintal cerita berlapis), Sati (Kesadaran Penuh) adalah antidotnya. Praktik melabeli pikiran secara lembut dengan kata “berpikir…” dapat menjinakkan batin dan mengembalikannya ke jangkar napas. “Anda bukan pikiran Anda,” tegas beliau.

 

Langkah Praktis dan Penyangga Pemulihan

 

Pemulihan batin tentu butuh latihan. Bhante membagikan langkah praktis yang bisa diterapkan sehari-hari:

 

– Napas Sadar Harian: Jadikan napas sebagai jangkar 1-3 menit saat batin mulai kalut.

– Jeda 3 Napas: Berhenti sejenak sebelum bereaksi untuk memutus “panah kedua”.

– Mettā ke Diri & Journaling Emosi: Ucapkan 2-3 kalimat kebaikan untuk diri sendiri tiap pagi/malam, dan tuangkan serta beri nama emosi tersebut, karena menamai berarti menjinakkan.

 

 

Selain itu, Bhante menegaskan pentingnya fondasi Sīla (moralitas yang baik) dan Kalyāņa-mitta (komunitas dan sahabat spiritual yang baik) sebagai penyangga di saat sulit. Beliau juga memberikan pesan penting mengenai batasan diri: Untuk luka berat atau berkepanjangan, mencari bantuan profesional (psikolog/psikiater) adalah tindakan yang bijak, bukan tanda kelemahan.

Diskusi Hangat dan Penutup yang Sarat Makna

 

Sesi Dhamma Talk diakhiri dengan sesi Tanya Jawab (Q&A) yang sangat interaktif. Banyak peserta yang membagikan keluh kesah dan keraguan mereka, menjadikannya ruang aman untuk berdiskusi dan bertumbuh bersama.

 

Acara kemudian ditutup dengan prosesi penyerahan souvenir dan Dana Rupang, disusul dengan Pelimpahan Jasa (Pattidana). Tepat pukul 14.30 WIB, keceriaan diabadikan lewat sesi foto bersama sebelum Bhante meninggalkan ruangan diiringi lagu buddha saranam gacchami, dan seluruh peserta perlahan dimobilisasi untuk pulang.

 

Melalui Healing Menurut Ajaran Buddha, Grand Mindful Connect 7 bukan sekadar acara mendengarkan ceramah, melainkan sebuah perjalanan ke dalam diri untuk menemukan kedamaian. Semoga apa yang dipelajari hari ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan kita pribadi yang lebih mindful, tangguh, dan penuh welas asih.

 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Tags :