Event

Ketika Buddha Digambar Bisa Ragu: Malam Reflektif Bersama Komik Osamu Tezuka

Minggu, 24 Mei 2026

SURABAYA — Malam itu, 23 Mei 2026, suasana di pusat perbelanjaan terasa berbeda dan jauh lebih mendalam. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas urban Convention Hall Tunjungan Plaza 3, sebuah diskusi keagamaan hadir memikat hati dengan pemandangan yang tidak biasa. Ruangan tidak lagi dipenuhi oleh jubah atau atribut keagamaan tertentu, melainkan menjadi ruang temu yang inklusif bagi keberagaman masyarakat. Mulai dari umat Buddhis yang merawat keyakinan sejak kecil, penggemar komik yang baru pertama kali menyentuh karya bertema spiritual, hingga warga urban yang hadir sekadar karena terpikat rasa penasaran pada judulnya.

 

Lewat bedah buku kolaboratif di Surabaya, sebuah ruang pertemuan antara spiritualitas dan budaya populer membuktikan satu hal sederhana: kisah Buddha bukan milik satu golongan, melainkan milik siapa saja yang sedang mencari arah.

Mereka berkumpul untuk satu alasan: membedah Buddha, karya monumental komikus legendaris Jepang, Osamu Tezuka. 

 

Diskusi bertajuk “Menelusuri Jalan Buddha: Spiritualitas dan Kemanusiaan dalam Komik Karya Osamu Tezuka” ini digelar sebagai bagian dari rangkaian acara Semesta Buku pada 23 Mei 2026, dengan dukungan Young Buddhist Association (YBA) dan komunitas Baca Komik Lokal. Malam itu menghadirkan Febiana Lia Chandra dari Komunitas Young Buddhist Association sebagai narasumber, dipandu oleh Safi dari Komunitas Komik Lokal selaku moderator. Perpaduan ini menghasilkan dua sudut pandang yang saling melengkapi: perspektif Buddhis yang dekat dengan nilai dan ajaran, serta perspektif pembaca komik yang melihat karya Tezuka sebagai narasi yang relevan lintas generasi.

Buddha yang Terasa Seperti Kita

Daya tarik utama karya Tezuka, dan yang menjadi simpul percakapan sepanjang malam, adalah keberaniannya menggambarkan Siddharta sebagai manusia seutuhnya. Bukan sosok agung yang dingin di atas altar, melainkan seorang pangeran yang bisa marah, ragu, takut, bahkan jatuh cinta. “Awalnya saya kaget, karena saya tumbuh dengan gambaran Buddha yang agung dan tenang,” ujar Febiana.

“Tapi makin dibaca, justru itu yang bikin saya jatuh cinta. Untuk pertama kalinya, Buddha terasa seperti seseorang yang saya kenal. Dan saya jadi berpikir, kalau dia yang seragu itu saja bisa sampai, mungkin saya juga bisa.”Bagi sebagian peserta, justru sisi “manusiawi” inilah yang membuka pintu. Tezuka tidak menulis kitab suci; ia menggubah karya seni. Tokoh-tokoh fiksi seperti Tatta si anak pariah dan Chapra si budak yang menyamar menjadi bangsawan sengaja diciptakan untuk memberi pembaca “mata” dari kelas bawah — sebuah cara menghadirkan kritik ketimpangan sosial yang tidak bisa ditunjukkan lewat sudut pandang seorang pangeran.

Lima Tema yang Melampaui Agama 

Diskusi mengalir menelusuri tema-tema besar yang diangkat komik delapan jilid ini: penderitaan, kekuasaan, kasih sayang, ketimpangan sosial, dan pencarian makna. Yang menarik, kelima tema itu disepakati bukan sebagai “tema agama”, melainkan tema kemanusiaan universal. Salah satu titik paling relevan bagi generasi muda adalah konsep Jalan Tengah. Setelah enam tahun menyiksa diri sebagai pertapa, Siddharta justru menemukan pencerahan ketika berhenti dari ekstrem dan memilih keseimbangan. “Jalan Tengah versi modern itu bukan berarti hidup biasa-biasa saja tanpa melakukan apa pun,” jelas Febiana. “Itu kebijaksanaan untuk tahu kapan harus mendorong diri, kapan harus istirahat. Boleh bekerja keras, asal tidak sampai membenci diri sendiri.” Pesan ini menggema di ruangan yang sebagian besar diisi anak muda — generasi yang akrab dengan tekanan hustle culture di satu sisi dan kelelahan digital di sisi lain.

Moralitas yang Tidak Hitam-Putih 

Salah satu percakapan paling hidup muncul ketika moderator Safi mengajak peserta membahas karakter Devadatta — sosok yang dalam banyak versi digambarkan sebagai antagonis, namun di tangan Tezuka justru memiliki luka dan alasan. Diskusi pun bergeser ke pertanyaan filosofis: benarkah tidak ada manusia yang benar-benar jahat? Dari sudut pandang Buddhis, jawabannya bernuansa. Perbuatan buruk sering lahir bukan dari kejahatan murni, melainkan dari ketakutan, keserakahan, dan ketidaktahuan — apa yang dalam ajaran Buddha disebut avidya, kegelapan batin. “Yang Tezuka ajarkan bukan agar kita berhenti menilai,” demikian salah satu refleksi yang muncul, “tapi agar kita belajar melihat manusia di balik perbuatannya.”

Membaca dalam Senyap, Bersama 

Acara ditutup dengan sesi yang barangkali paling berkesan: baca senyap. Selama tiga puluh menit, peserta saling menukar buku yang mereka bawa, lalu tenggelam dalam bacaan masing-masing dalam keheningan bersama. Sebuah praktik kecil yang, di tengah dunia yangserba bising dan cepat, terasa seperti meditasi. Ruangan yang tadinya riuh oleh diskusi berubah hening. Tidak ada notifikasi, tidak ada layar — hanya kertas, kata, dan kehadiran.

Untuk Siapa Karya Ini?

Pertanyaan itu dijawab dengan jelas di penghujung acara: untuk semua orang. Bagi pembaca Buddhis, Buddha karya Tezuka menawarkan cara baru jatuh cinta pada kisah yang telah dikenal sejak kecil. Bagi yang bukan Buddhis, karya ini sama sekali tidak mengajak berpindah keyakinan — ia hanya menawarkan pertanyaan yang relevan bagi siapa saja. “Kamu tidak perlu menjadi Buddhis untuk mendapatkan sesuatu dari komik ini,” tutup Febiana. “Kamu cukup menjadi manusia yang sedang mencari makna. Dan saya rasa, itu kita semua.” Malam itu pun usai. Namun pertanyaan-pertanyaan yang dibawa pulang — tentang penderitaan, makna, dan welas asih — barangkali baru saja dimulai.

Tentang Acara 

Tajuk: Menelusuri Jalan Buddha — Spiritualitas dan Kemanusiaan dalam Komik Karya Osamu Tezuka

Penyelenggara: Semesta Buku (@semestabuku_id)

Didukung oleh: Young Buddhist Association & Baca Komik Lokal

Narasumber: Febiana Lia Chandra (Komunitas Young Buddhist Association) Moderator: Safi (Komunitas Komik Lokal)

Waktu: 23 Mei 2026, 19.00–21.00 WIB

Tempat: Convention Hall TP 3, Tunjungan Plaza, Jl. Jenderal Basuki Rachmat No.8–12, Kedungdoro, Kec. Tegalsari, Surabaya, Jawa Timur

Buku yang dibedah: Buddha karya Osamu Tezuka (8 jilid; jilid pertama: Kapilawastu)

Young Buddhist Association (YBA) adalah komunitas anak muda yang menghadirkan ajaran Buddha secara relevan, terbuka, dan lintas tradisi. Lewat konten, festival, dan ruang-ruang diskusi seperti ini, YBA percaya bahwa spiritualitas adalah perjalanan yang terbuka bagi siapa saja.

Tags :