Event

Membasuh Luka, Menemukan Cahaya: Catatan Perjalanan Batin dari Mindful Festival 2026

Kamis, 16 April 2026

JAKARTA – Di tengah keriuhan Jakarta yang tak pernah tidur, sebuah oase ketenangan tercipta di ScreenX CGV Grand Indonesia pada 12 April 2026. Young Buddhist Association (YBA) bekerja sama dengan Go Mindful sukses menggelar Mindful Festival 2026, sebuah ruang refleksi kolektif yang menghadirkan ratusan jiwa untuk sejenak berhenti, bernapas, dan kembali pulang ke dalam diri sendiri.

Dipandu dengan hangat oleh Johan C. Saputra sebagai moderator, festival ini bukan sekadar seminar kesehatan mental biasa. Ia adalah sebuah perjalanan naratif yang membedah bagaimana praktik kesadaran (mindfulness) menjadi jangkar kokoh di tengah badai ambisi dan tantangan hidup modern.

Menghadapi Luka dan Menemukan Keseimbangan Tubuh

Perjalanan dimulai dengan keberanian untuk menatap ke dalam. Marissa Anita membuka sesi pertama dengan topik menyentuh, “Luka yang Tak Terlihat“. Ia mengingatkan audiens bahwa kelelahan emosional di masa dewasa sering kali merupakan gema dari luka masa kecil yang terabaikan. Melalui teknik pernapasan 4-7-8, Marissa mengajak peserta untuk tidak melarikan diri, melainkan berani “hadir” merasakan luka tersebut sebagai langkah awal pemulihan.

Senada dengan Marissa, dr. Yudhi Gejali membawa perspektif fisik dalam sesi “Belajar Keseimbangan Batin dari Tubuh Kita Sendiri”. Mengambil filosofi dari Bhaisajyaguru Buddha, dr. Yudhi menekankan bahwa penyembuhan sejati dimulai saat kita berhenti kabur dari penderitaan. Suasana berubah menjadi meditatif saat seluruh ruangan melafalkan mantra “Om Ah Hum”, menyelaraskan getaran energi antara pikiran, ucapan, dan hati.

Menjernihkan Identitas di Tengah Arus Ambisi


Memasuki pertengahan acara, Adjie Santosoputro mengajak peserta membedah “Diri Konseptual”. Adjie menekankan bahwa pulih bukan berarti menjadi orang baru, melainkan melepaskan keterikatan pada drama-drama masa lalu yang kita jadikan identitas. Di balik hiruk-pikuk pikiran, sejatinya ada ruang kesadaran yang selalu jernih.

Perspektif ini diperkaya oleh Michael Yeoh yang membagikan sisi jujur dari dunia profesional. Melalui “Prinsip Goldilocks”, Michael membuktikan bahwa mencari “cuan” tidak harus menghancurkan mental. Dengan menerapkan empat pilar kebijaksanaan—Metta, Karuna, Mudita, dan Upekkha—ia menunjukkan bahwa kesuksesan finansial dan ketenangan batin bisa berjalan beriringan.

Menuju Titik Tengah dan Puncak Kebijaksanaan


Abu Marlo, sang “murid kehidupan,” kemudian menantang audiens untuk keluar dari jerat dualitas “benar atau salah”. Melalui tes “T” (Tergantung), ia mengajarkan bahwa kedamaian diraih saat kita mampu menerima realitas tanpa menghakimi. Menurutnya, pikiran adalah kamar-kamar yang kita kunjungi, namun kita punya pilihan untuk tidak “menginap” terlalu lama di kamar yang penuh dendam dan amarah.

Sebagai puncak filosofis, Bhante Santacitto memberikan penegasan tentang “Kebijaksanaan dalam Meditasi”. Beliau mengingatkan bahwa fokus tanpa kebajikan ibarat kucing yang mengincar mangsa—tajam namun berbahaya. Kebijaksanaan sejati, menurut Bhante, adalah memahami bahwa segala sesuatu bersifat Anatta (tanpa inti diri) dan terus berubah. Memahami ketidakkekalan ini adalah kunci utama melepaskan penderitaan.

Pesan Rendah Hati dari Hutan Kebenaran


Acara ditutup dengan pesan syahdu dari Suhu Xian Bing (Y.M. Bhiksu Bhadra Pala Mahasthavira). Beliau mengapresiasi langkah tulus tim YBA yang menempuh perjalanan dari Surabaya ke Jakarta demi menebar benih kesadaran ini.

Dalam wejangannya, Suhu Xian Bing memberikan perumpamaan yang membekas: pengetahuan kita hanyalah sehelai daun, sementara kebenaran universal seluas daun-daun di hutan.

“Starting untuk belajar rendah hati itulah utama kita. Tetaplah rendah hati, walaupun kesuksesan apa pun yang Anda raih,” pesannya menutup festival dengan penuh kedamaian.

 

Mindful Festival 2026 berakhir, namun bagi ratusan peserta yang hadir, ini barulah awal. Sebuah perjalanan untuk terus merawat benih kesadaran yang telah ditanam, agar tetap tumbuh di tengah bisingnya dunia.

Tags :