Event

Menemukan Keheningan, Menabur Welas Asih: Sebuah Perjalanan Batin di Villa Dharma Ledug

Minggu, 26 April 2026

PRIGEN, JAWA TIMUR – Menjelang fajar Waisak yang suci, sebuah keheningan yang dalam menyelimuti dataran tinggi . Di sana, semangat Road to Vesak Festival 2026 tidak hanya dirayakan dengan kemeriahan, tetapi melalui sebuah perenungan mendalam yang digagas oleh Young Buddhist Association (YBA). Sebanyak 36 peserta dan 15 panitia memutuskan untuk menepi sejenak dari hiruk-pikuk duniawi, menyerahkan diri pada kedamaian lereng pegunungan di Villa Dharma Ledug dalam rangkaian kegiatan Temple Stay Mahayana yang khidmat.

Perjalanan spiritual ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah transformasi yang dibimbing langsung oleh para guru Dharma yang mumpuni. Di bawah naungan Y.M. Bhiksu Badra Pala Mahasthavira (Suhu Xian Bing) dan Y.M. Bhiksu Sakya Sugata Sthavira (Suhu Neng Xiu), setiap peserta diajak untuk menanggalkan identitas sosial mereka dan hidup dalam kesederhanaan tradisi Mahayana. Kehadiran para Sramanera, mulai dari Sramanera Satya Tatha (Shami Chen Ru), Sramanera Dharma Paramattha (Shami Fa Li), hingga Sramanera Dharma Chakra (Shami Fa Lun), semakin mempertebal suasana spiritual yang menyelimuti setiap sudut tempat pelatihan.

Langkah pertama dimulai saat peserta meninggalkan keriuhan Surabaya menuju kesejukan udara Prigen. Begitu memasuki gerbang Villa Dharma Ledug, suasana sakral langsung menyapa melalui prosesi Sha Jing, sebuah upacara penyucian lokasi yang secara simbolis membersihkan ruang dan batin sebelum memulai perjalanan suci.

Hari pertama menjadi masa adaptasi yang krusial, di mana setiap individu mendapatkan pengarahan langsung dari Suhu mengenai esensi dari sebuah pengabdian batin. Sebelum hari berakhir, suasana sunyi malam diisi dengan doa yang khidmat dan latihan pengambilan sila sebagai fondasi disiplin yang akan dijalani keesokan harinya.

Memasuki hari kedua, yang merupakan jantung dari seluruh pelatihan, kedisiplinan mulai meresap dalam napas para peserta. Sebelum matahari benar-benar menyapa bumi, meditasi pagi telah dimulai sebagai pembuka hari, diikuti dengan pengambilan Asthasila atau Delapan Sila secara resmi. Di sinilah para peserta belajar melatih kendali diri, melepaskan keinginan duniawi, dan menggantinya dengan kesadaran penuh atau mindfulness. Aliran kegiatan mengalir dengan harmonis, mulai dari kelas Dharma bersama Suhu Neng Xiu yang mengupas tuntas filosofi Mahayana dan indahnya welas asih, hingga tradisi Tian Cung, Shang Gong, dan pelafalan nama Buddha (Nian Fo) yang memupuk devosi mendalam.

Di sela-sela aktivitas komunal tersebut, momen yang paling dinantikan dan menyentuh batin adalah sesi konseling privat bersama Y.M. Bhiksu Badra Pala Mahasthavira (Suhu Xian Bing). Dalam ruang yang tenang dan penuh empati, peserta diberikan kesempatan untuk mencurahkan kegelisahan hati, hambatan dalam praktik batin, hingga pertanyaan terdalam mengenai kehidupan. Suhu Xian Bing dengan kebijaksanaannya memberikan arahan personal yang menyejukkan, menjadikan sesi ini sebagai jembatan bagi peserta untuk melepaskan beban batin yang selama ini terpendam. Bimbingan empat mata ini seolah menjadi oase yang memberikan kejelasan di tengah pencarian spiritual masing-masing individu.

 

Keheningan batin pun terus dipupuk melalui berbagai bentuk meditasi, termasuk meditasi jalan di mana setiap langkah kaki disadari sebagai sebuah persembahan dan keberadaan utuh di masa kini. Tak hanya soal meditasi, kerendahan hati juga dilatih melalui kerja bakti bersama, menciptakan ikatan persaudaraan yang erat di antara peserta dan panitia. Kehangatan ini semakin terasa melalui detail-detail sederhana namun membekas, seperti sesapan kacang hijau di sore hari dan kehangatan minuman Luo Han Guo sebelum beristirahat, yang memberikan kenyamanan di tengah dinginnya udara malam.

Fajar di hari ketiga membawa kemantapan hati melalui prosesi Trisarana, sebuah pernyataan teguh untuk berlindung pada Buddha, Dharma, dan Sangha. Setelah melakukan pengabdian terakhir melalui kerja bakti sebagai bentuk penghormatan kepada tempat yang telah menaungi transformasi mereka, seluruh rangkaian acara ditutup dengan makan siang bersama yang penuh rasa syukur. Perjalanan kembali menuju Surabaya sore itu bukan lagi sekadar kepulangan fisik, melainkan sebuah kepulangan jiwa yang membawa bekal ketenangan, kebijaksanaan, dan cara pandang baru tentang welas asih.

 

Temple Stay Mahayana ini telah membuktikan bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemukan saat seseorang berani berhenti sejenak dan menengok ke dalam diri sendiri. Antusiasme dan kedisiplinan para peserta muda ini menjadi pesan kuat bahwa spiritualitas tetap menjadi damba di tengah zaman yang serba cepat. Bagi mereka yang merindukan transformasi batin serupa, Young Buddhist Association terus membuka pintu untuk perjalanan spiritual selanjutnya, mengajak setiap jiwa untuk terus tumbuh dalam Dharma dan berbagi dengan welas asih yang tak terbatas.

Tags :