Batu, 14 Juli 2026 – Sebuah momen langka penuh kesakralan lintas budaya baru saja bersemi di Kota Batu. Generasi muda yang tergabung dalam Young Buddhist Association (YBA) berkesempatan menghadiri dan menyaksikan langsung salah satu prosesi budaya paling bersejarah tahun ini, yaitu persinggahan Topeng Sri Aji Dalem Jawi dalam rangkaian Sastra Saraswati Sewana Yatra VI
Wihara Padepokan Dhammadipa Arama, Kota Batu, menjadi saksi bisu bersatunya nilai-nilai spiritualitas Buddha dan keagungan tradisi sakral Bali. Bagi YBA, kehadiran dalam yatra ini adalah wujud nyata penghormatan pemuda Buddhis terhadap keberagaman, sekaligus komitmen untuk menjaga persatuan Nusantara
Cakrawala Mandala Dwipantara: Laut dan Perbedaan sebagai Penghubung
Perjalanan Topeng Sri Aji Dalem Jawi menyusuri tanah Jawa bukanlah sekadar kirab budaya biasa. Yatra ini melintasi berbagai pura, vihara, candi, hingga keraton dengan membawa pesan agung Cakrawala Mandala Dwipantara.
Sebuah filosofi mendalam yang mengingatkan kita semua bahwa hamparan laut yang luas dan segala perbedaan kultural di Indonesia bukanlah sekat pemisah, melainkan simpul kokoh yang menghubungkan rajutan Nusantara. YBA melihat momentum ini sebagai pengingat bagi generasi muda untuk terus merawat toleransi di atas fondasi keberagaman.
Pasabhan Kabudayaan Jawa dan Bali: Alur Harmoni Lintas Iman
Mengusung tajuk Pasabhan Kabudayaan Jawa dan Bali, acara yang dimulai pada pukul 19.00 WIB ini berlangsung dengan sangat tertib, khidmat, dan penuh rasa persaudaraan. Berikut adalah rangkaian momen indah yang diikuti oleh YBA sepanjang malam:
– Pembukaan oleh MC yang membuka malam budaya dengan menyapa para tokoh agama, budayawan, dan pemuda yang hadir dari berbagai daerah.
– Doa bersama yang dipimpin langsung oleh Y.M. Bhante Dhammasubho Mahathera, memancarkan gelombang kedamaian dan berkah bagi kelancaran seluruh rangkaian acara.
– Rangkaian kata sambutan yang diawali dengan pandangan inspiratif dari Bapak Ari Dwipayana, dilanjutkan dengan sambutan hangat dari Ketua PHDI Bapak Pariyanto yang menekankan pentingnya persatuan, serta pesan meneduhkan dari tokoh Buddhis Y.M. Bhante Jayamedho Thera.
– Prosesi simbolis penyerahan cinderamata kepada Y.M. Bhante Jayamedho Thera sebagai bentuk penghormatan dan eratnya jalinan persahabatan budaya Hindu-Buddha.
– Penampilan inti yang menjadi puncak malam budaya melalui persembahan yang sangat memukau, yakni Pementasan Tari Topeng Sakral Sri Aji Dalem Jawi yang menyatu selaras dengan keanggunan Wayang Wong Tantri NANDAKA HARANA.
Kado Istimewa: 55 Tahun Wihara dan Menyongsong Ulang Tahun Y.M. Bhante Khantidharo Mahathera
Kehadiran rombongan yatra di Batu terasa kian magis karena bertepatan dengan momen bersejarah bagi Wihara Dhammadipa Arama itu sendiri. Tahun ini, padepokan yang akrab dijuluki Pulau Dhamma tersebut genap berusia 55 tahun dalam dedikasinya sebagai pusat meditasi dan kebajikan.
Selain itu, atmosfer kebahagiaan di wihara kian berlipat karena dalam dua hari ke depan, tepatnya pada 17 Juli 2026, seluruh umat akan merayakan hari ulang tahun ke-95 sang perintis padepokan, Y.M. Bhante Khantidharo Mahathera.
Mengenang hampir satu abad perjalanan hidup beliau, YBA mengajak generasi muda untuk merenungkan kembali pesan abadi Sang Buddha yang melekat erat pada nama beliau: Khanti (kesabaran) adalah tapa (praktik spiritual) yang tertinggi.
Melalui momentum Sastra Saraswati Sewana ini, YBA tidak hanya menyerap keindahan seni budaya, tetapi juga meneladani keteguhan, kesabaran, dan welas asih yang telah dicontohkan oleh Bhante Khantidharo selama 95 tahun dedikasinya bagi perkembangan Dhamma di Indonesia.
Melangkah Bersama Warisan Leluhur
Bagi Young Buddhist Association, hadir di Wihara Dhammadipa Arama malam itu adalah sebuah pengalaman spiritual dan kultural yang mencerahkan. Menjaga warisan leluhur dan merawat toleransi adalah tongkat estafet yang kini berada di tangan anak muda. Dengan semangat Cakrawala Mandala Dwipantara, YBA siap melangkah maju, merangkul perbedaan sebagai kekuatan, dan menyebarkan kedamaian ke seluruh penjuru negeri.