SURABAYA — Siang itu, 14 Mei 2026, Suasana Kota Pahlawan terasa berbeda dan jauh lebih menyejukkan hati. Di tengah padatnya aktivitas urban, pandangan masyarakat dimanjakan oleh aksi inspiratif bertajuk Indonesia Walk for Peace. Puluhan Bhikkhu berjalan kaki menyusuri jalan-jalan protokol Surabaya untuk mencontohkan langsung esensi mindfulness in action (kesadaran penuh dalam tindakan) sekaligus merajut tali persaudaraan lintas iman.
Aksi berjalan kaki yang penuh kedamaian ini dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2026, mengambil rute di berbagai titik historis dan pusat kegiatan di Kota Pahlawan, Surabaya. Perjalanan spiritual ini dimulai sejak pagi hari pukul 07.00 WIB, mengambil titik start dari Vihara Buddhayana Dharmavira Centre. Melalui koordinasi yang luar biasa dari tokoh penggerak seperti Pak Panji, seluruh rangkaian rute dapat berjalan dengan sangat aman, tertib, dan kondusif. Dari vihara, para Bhikkhu berjalan dengan langkah yang anggun dan tenang menuju Balai Kota Surabaya, melewati berbagai rute padat seperti kawasan Panjang Jiwo, Jembatan Nginden, Taman Flora Manyar, hingga menyusuri Jalan Raya Gubeng dan Jalan Pemuda sebelum akhirnya tiba di Taman Surya. Tidak berhenti di situ, perjalanan dilanjutkan menuju Gedung Negara Grahadi sebelum akhirnya mencapai puncaknya di Gereja Katedral Hati Kudus Surabaya pada siang hari untuk sebuah kunjungan persahabatan yang hangat.
Mengapa Langkah Kecil Ini Sangat Berarti?
Bagi kita, generasi muda yang sering kali terjebak dalam dinamika dunia digital yang serba cepat dan penuh tekanan, aksi INDONESIA WALK FOR PEACE ini membawa pesan yang sangat mendalam mengenai persatuan global. Kehadiran Bhante Prasan Thongchai bersama puluhan Bhikkhu lainnya di jalanan Surabaya bukan sekadar sebuah parade fisik, melainkan sebuah simbol hidup dari praktik Metta (cinta kasih) dan Khanti (kesabaran) yang melintasi batas negara. Di tengah dunia yang rentan terpecah belah oleh perbedaan, para Bhikkhu menunjukkan bahwa kedamaian sejati tidak digaungkan melalui ruang debat yang bising, melainkan dipraktikkan melalui keheningan batin dan tindakan nyata yang menghargai keberagaman.
Puncak dari keindahan acara ini tercermin saat para Bhikkhu mengakhiri langkah kaki mereka di Gereja Katedral Hati Kudus Surabaya untuk melakukan kunjungan persahabatan. Melalui inisiatif dan dukungan penuh dari Pak Panji beserta panitia, momen ini menjadi sebuah penegasan nyata mengenai pentingnya toleransi Antar umat beragama di Indonesia.
Dalam sebuah sesi wawancara di sela-sela acara, Pak Panji menegaskan esensi mendalam dari kegiatan ini. Beliau menyampaikan bahwa, “Perdamaian tidak cukup hanya diwacanakan, tetapi harus dilaksanakan dalam kehidupan nyata oleh seluruh masyarakat.” Lebih lanjut, beliau menggarisbawahi bahwa, “Toleransi, keberagaman, dan moderasi beragama di Indonesia bukan sekadar slogan, tetapi nyata adanya dalam kehidupan sehari-hari.” Kehadiran para Bhikkhu di rumah ibadah sahabat Katolik ini menunjukkan kepada kita semua, khususnya para pemuda Buddhis, bahwa batasan keyakinan bukanlah penghalang untuk saling merangkul, bekerja sama, dan membangun harmoni demi kedamaian bangsa.
Membawa semangat Walk For Peace dalam kehidupan sehari-hari:
Kita mungkin tidak mengenakan jubah atau berjalan kaki puluhan kilometer setiap hari seperti para Bhikkhu, namun kita bisa mengadopsi semangat perjalanan spiritual tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari kita. Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah melatih WALKING MEDITATION atau meditasi berjalan dalam skala kecil, misalnya saat berjalan menuju halte bus, kampus, atau tempat kerja. Dengan menyadari setiap sentuhan kaki pada tanah dan mengistirahatkan pikiran dari gawai—sebagaimana ketenangan yang dipancarkan oleh Bhante Prasan Thongchai sepanjang jalan—kita sedang menghadirkan kedamaian ke dalam diri sendiri yang kemudian akan terpancar kepada orang-orang di sekitar kita.
Selain melatih kesadaran emosional, kita juga ditantang untuk menjadi motor penggerak kerukunan seperti yang dicontohkan oleh Pak Panji. Generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam meruntuhkan dinding prasangka dengan cara membuka diri terhadap dialog antarkomunitas, menghargai perbedaan pendapat di media sosial, serta aktif terlibat dalam kegiatan kemanusiaan lintas iman. Melalui cara-cara modern, inklusif, and penuh kolaborasi inilah, kita meneruskan estafet kedamaian yang telah dicontohkan oleh para Bhikkhu dalam perjalanan kemarin.
Setiap langkah kaki yang diayunkan dalam INDONESIA WALK FOR PEACE adalah pengingat bahwa kedamaian global selalu dimulai dari kedamaian internal di dalam hati kita masing-masing. Mari kita jadikan momen berharga di Kota Surabaya ini sebagai inspirasi untuk terus melangkah dengan penuh kesadaran, menyebarkan cinta kasih, dan menjadi agen perubahan yang membawa harmoni bagi dunia.