Di tengah meningkatnya krisis lingkungan yang kian terasa dampaknya, ruang dialog lintas iman kembali menemukan relevansinya. Hal inilah yang tercermin dalam kunjungan Bhante Jayamedho bersama Wakil Ketua Harian Young Buddhist Association (YBA), David Nugraha, ke Yayasan Pondok Kasih (YPK), dalam rangkaian forum Forum Beda Tapi Mesrah (FBM).
Pertemuan ini berlangsung hangat dan substantif. Tidak berhenti pada diskusi konseptual, tetapi bergerak menuju perumusan aksi bersama demi menjawab persoalan lingkungan dan kemanusiaan yang semakin mendesak di Indonesia.
Ketua YPK, Indah Wati, menekankan bahwa kerusakan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari krisis moral manusia. Ketika alam tidak dijaga, bencana yang muncul bukan hanya ekologis, tetapi juga menyentuh nilai-nilai kemanusiaan. Harapannya, forum lintas agama seperti ini dapat melahirkan outcome nyata yang bermanfaat bagi Indonesia.
Sejalan dengan itu, Ketua Umum FBM, Syuhada, menggarisbawahi bahwa banyak bencana yang terjadi hari ini merupakan “bencana lintas rezim”. Kebijakan eksploitasi yang diwariskan dari masa ke masa, bahkan semakin agresif di era sekarang, telah menimbulkan dampak serius. Mulai dari pembukaan jutaan hektare lahan di Merauke untuk sawit dan tebu demi program bioetanol nasional, hingga kriminalisasi masyarakat adat di Maluku yang berupaya mempertahankan wilayah dan budayanya.
Realitas serupa juga terlihat di Sumatera, Sulawesi Utara, hingga Raja Ampat. Wilayah yang dahulu dikenal sebagai surga biodiversitas kini menghadapi laju eksploitasi yang masif, dengan korban jiwa dan kerusakan ekosistem yang terus bertambah.
Dari kegelisahan inilah gagasan ekoteologi kembali ditegaskan. Agama tidak berhenti pada relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga harus hadir dalam kepedulian terhadap bumi dan sesama. Forum ini mendorong agar pemuka agama lintas iman tidak sekadar berdialog, tetapi bersuara bersama menyampaikan pesan moral kepada para pengambil kebijakan.
Bhante Jayamedho turut mengenalkan konsep interbeing, bahwa manusia, alam, dan semua makhluk hidup saling terkait. Kerusakan alam berarti kerusakan pada diri manusia sendiri. Dalam sesi diskusi, Bhante juga mengenalkan program tahunan YBA yang baru saja mengadakan kegiatan fangsheng sebagai bentuk kepedulian terhadap alam. Praktik ini dilakukan secara bertanggung jawab, dengan mempertimbangkan habitat satwa, agar ekosistem tetap terjaga.
Pesan yang mengemuka sederhana namun kuat. Menjaga alam adalah menjaga kehidupan.
Diskusi ini tidak dibiarkan menguap. Para tokoh sepakat bahwa momentum harus dijaga dan ditindaklanjuti dengan aksi nyata. Salah satu luaran penting dari pertemuan ini adalah kesepakatan untuk menggelar Deklarasi Lintas Agama untuk Ekoteologi dengan tema :
“Implementasi Ekoteologi untuk Menyelamatkan Indonesia dari Bencana Lingkungan.”
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :
Deklarasi ini diharapkan menjadi suara moral bersama para rohaniawan lintas agama, bukan hanya sebagai wacana, tetapi sebagai komitmen nyata untuk menjaga bumi dan membela mereka yang terdampak.
Kunjungan Bhante Jayamedho dan perwakilan YBA ke YPK memancarkan energi kolaboratif. Tidak ada sekat iman, tidak ada ego sektoral. Para tokoh yang hadir memunculkan kesadaran bahwa krisis lingkungan adalah masalah bersama, dan solusinya hanya mungkin lahir melalui kerja lintas batas.
Di ruang sederhana itu, terbangun harapan bahwa nilai-nilai agama di Indonesia dapat terus diimplementasikan, dalam semangat persatuan, dan bergerak bersama demi masa depan bumi dan generasi mendatang.