JAKARTA — Vihara Mudita Center bersama Young Buddhist Association (YBA) menerima kunjungan rombongan Dhammayatra Field Trip 2026 dari Mentari Intercultural School Grand Surya pada Sabtu, 18 April 2026. Sebanyak 114 siswa SMP dan SMA beserta para pembimbing, dengan total rombongan mencapai 130 orang, mengikuti rangkaian kegiatan bertema “The Path to the Next Gen Buddhist Leadership” yang berlangsung mulai pukul 12.00 hingga 15.00 WIB.
Kegiatan ini sepenuhnya diinisiasi dan diselenggarakan oleh Mentari Intercultural School Grand Surya sebagai bagian dari program pembelajaran spiritual siswa. Vihara Mudita Center dan Young Buddhist Association berperan sebagai tuan rumah yang menyambut kunjungan rombongan.
Dharma sebagai Pengalaman, Bukan Sekadar Teori
Kedatangan rombongan disambut hangat di pelataran Vihara Mudita Center menjelang tengah hari. Sejak awal, konsep Dhammayatra kali ini dirancang untuk keluar dari pola belajar konvensional. Siswa tidak hanya mendengar ceramah, tetapi diajak merasakan langsung bagaimana ajaran Buddha Dharma hidup dan relevan dalam keseharian.
“Belajar Dharma itu bukan hal yang kaku. Justru seru, relate, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” demikian pesan yang ditekankan sepanjang sesi kunjungan.
Wejangan Suhu Xian Bing: Kepemimpinan Berakar Cinta Kasih dan Kebijaksanaan
Sesi utama hari itu menghadirkan Y.M. Bhiksu Bhadra Pala Mahastavira, atau yang akrab disapa Suhu Xian Bing, selaku Kepala Vihara Mudita Center sekaligus Dewan Pelindung Young Buddhist Association of Indonesia.
Di hadapan ratusan siswa, Suhu Xian Bing memberikan wejangan mendalam mengenai esensi kepemimpinan Buddhis. Beliau menekankan bahwa seorang pemimpin sejati tidak dibentuk oleh jabatan atau pengaruh, melainkan oleh dua kualitas batin yang harus dilatih terus-menerus: Karuna (cinta kasih) dan Panna (kebijaksanaan).
Pesan Suhu menggarisbawahi bahwa generasi muda Buddhis saat ini berada di posisi strategis — merekalah yang akan menentukan wajah Buddha Dharma di Indonesia dalam dua hingga tiga dekade ke depan. Tanpa akar cinta kasih dan kebijaksanaan, kepemimpinan hanya akan berhenti sebagai formalitas.
Andy Sega: Jangan Jadi Penonton di Komunitasmu Sendiri
Sesi berikutnya diisi oleh Andy Sega, Ketua Mudita Youth, yang membawakan perspektif anak muda secara langsung. Dengan gaya komunikasi yang santai dan membumi, Andy mengajak para siswa untuk aktif dalam komunitas Buddhis — bukan sekadar hadir saat kebaktian atau perayaan besar.
Menurutnya, keberlangsungan komunitas Buddhis sangat bergantung pada seberapa banyak anak muda yang berani mengambil peran. “Kalau bukan generasi kalian, siapa lagi?” menjadi pesan yang dibawa pulang banyak peserta.
Antonius Rizaldy Bedah Sejarah dan Program YBA yang Agile dan Kekinian
Puncak sesi inspirasi disampaikan oleh Antonius Rizaldy, Ketua Young Buddhist Association Jakarta. Anton mengajak siswa menapak tilas sejarah YBA — bagaimana organisasi ini lahir dari keprihatinan akan minimnya wadah bagi anak muda Buddhis, hingga kemudian berkembang menjadi komunitas lintas kota yang aktif dan berpengaruh.
Lebih dari sekadar cerita masa lalu, Anton juga memaparkan semangat YBA hari ini: organisasi yang agile, kreatif, dan bergerak dengan ritme kekinian. Ia memperlihatkan bagaimana YBA gencar menggarap konten di media sosial — dari Instagram, TikTok, hingga YouTube — sebagai strategi utama untuk menjangkau Gen Z dan Gen Alpha.
Tidak berhenti di dunia digital, Anton juga memperkenalkan sejumlah program unggulan YBA yang dirancang khusus untuk membentuk anak muda Buddhis Indonesia. Salah satunya adalah program Temple Stay, sebuah pengalaman menginap di vihara yang memungkinkan peserta mendalami praktik Dharma secara langsung. Salah satu lokasi Temple Stay tersebut justru berlangsung di Vihara Mudita Center — menjadikan kunjungan hari itu semakin bermakna karena para siswa berkesempatan melihat langsung tempat yang selama ini menjadi ruang pembinaan spiritual bagi generasi muda.
Anton menegaskan, YBA berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program yang relevan, kreatif, dan tidak membosankan — karena Dharma yang disampaikan dengan cara lama tidak akan pernah menyentuh generasi baru.
Makna di Balik Kunjungan
Tiga jam bukan waktu yang panjang. Tapi bagi para siswa Mentari Intercultural School Grand Surya, sesi siang hingga sore itu meninggalkan jejak yang tidak biasa. Mereka pulang dengan perspektif baru bahwa vihara bukan hanya tempat ritual, tetapi juga ruang bertumbuh. Dharma bukan hanya pelajaran agama, melainkan kompas hidup.
Sekolah sebagai penyelenggara kegiatan berhasil memfasilitasi pengalaman yang padat namun utuh — memadukan aspek spiritual, kepemimpinan, dan refleksi dalam satu rangkaian kunjungan yang rapi dan bermakna.
Vihara Mudita Center dan Young Buddhist Association menyambut baik inisiatif Mentari Intercultural School Grand Surya ini. Kolaborasi antara institusi pendidikan dan komunitas Buddhis seperti ini diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi oleh sekolah-sekolah lain di Indonesia — demi memastikan generasi muda Buddhis tumbuh dengan akar yang kuat dan visi yang jernih.
Masa depan Dharma ada di tangan generasi muda. Dan siang itu, di Mudita Center, benih-benih kepemimpinan baru mulai ditanam.