Event

Waisak di Tengah Mall:
Anak Muda Buddhis Menghadirkan Dharma ke Jantung Kota

Jumat, 29 Mei 2026

Young Buddhist Association Indonesia menjangkar Vesak Festival 2026 dengan rupang Buddha transparan pemecah rekor—sekaligus sebuah argumen yang tenang: kerukunan antarumat paling kokoh dibangun di tempat orang-orang biasa benar-benar bertemu.

SURABAYA, Indonesia — Menjelang Waisak yang tahun ini jatuh pada 31 Mei, rupang Buddha transparan terbesar yang pernah dibuat di Indonesia kini berdiri di jantung salah satu mall tersibuk di negeri ini. Diresmikan pada 27 Mei di Atrium Tunjungan Plaza 3 Surabaya, rupang setinggi 5,6 meter dan selebar 4,6 meter itu mencatatkan rekor baru dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai rupang Buddha transparan terbesar seIndonesia. 

 

Karya ini ditenun dari anyaman kawat wiremesh yang saling terkait—ribuan simpul kecil yang membentuk satu tubuh utuh nan tembus pandang. Validator sekaligus notaris MURI, Paula, mengonfirmasi bahwa rupang tersebut memenuhi seluruh kriteria penilaian museum, dan menegaskan bahwa transparansinya sendiri membawa pesan festival. “Ia adalah simbol kesalingterhubungan,” ujarnya, “kesadaran bahwa diri, sesama, dan alam saling terhubung serta saling menopang. Tidak ada yang berdiri terpisah.” Dikerjakan oleh seniman asal Bali selama dua hingga tiga bulan, rupang ini dirancang untuk mewujudkan tema tahun ini: Interbeing: Kebahagiaan Kita, Tanggung Jawab Bersama.

 

Bagi Clea Alvina, Wakil Ketua Vesak Festival 2026, rekor ini bukan soal gengsi. “Ini adalah media,” katanya, “untuk mengenalkan nilai-nilai universal tradisi Buddhis kepada masyarakat luas.” Ambisi itulah yang menjelaskan pemilihan lokasi festival yang tidak biasa. Diselenggarakan oleh Yayasan Muda Mudi Buddhis Bersatu (YBAI), acara ini digelar di dua kota: Surabaya, kota asal yayasan, pada 27–31 Mei, dan Jakarta—ibu kota sekaligus kota dengan populasi umat Buddhis terbanyak di Indonesia—pada 3–7 Juni di Center Atrium Mall Taman Anggrek

Menyusuri Interbeing yang Imersif 

Selain rupang transparan, daya tarik utama festival lainnya justru dirancang untuk dirasakan, bukan dijelaskan. Pengunjung melangkah masuk ke sebuah terowongan imersif 3D— instalasi yang bisa dilewati dan dibangun untuk menerjemahkan gagasan abstrak tentang interbeing menjadi pengalaman indrawi. Saat melintasinya, pengunjung larut dalam aliran citra di mana diri, sesama, dan alam tampak bukan sebagai hal-hal yang terpisah, melainkan sebagai satu jalinan yang saling menopang. Bila sebuah ceramah hanya menjelaskan keterhubungan, terowongan ini membiarkan orang yang sekadar lewat untuk benar-benar berjalan masuk ke tengah-tengahnya, lalu menyadari dengan tenang bahwa tak ada satu pun dalam hidupnya yang sungguh berdiri sendiri.

Hadir di Tempat Masyarakat Berada

Mengapa di mall? Para penyelenggara tak merasa perlu meminta maaf untuk itu. Di kota seperti Surabaya dan Jakarta, mereka berargumen, mall barangkali adalah ruang publik paling demokratis yang dimiliki masyarakat—tempat orang dari segala agama, suku, kelas ekonomi, dan usia berjalan berdampingan tanpa sekat. Banyak yang mungkin seumur hidup tak pernah melangkah ke vihara, gereja, atau masjid milik komunitas lain, namun di mall mereka berpapasan dengan tenang. Jika Dharma hendak menjangkau khalayak luas, demikian alasan YBAI, ia harus hadir di tempat masyarakat benar-benar berada, bukan menunggu mereka datang.


Dengan begitu, festival ini selaras dengan prioritas pemerintah: melalui Peraturan Presiden No. 58/2023, Kementerian Agama menjadikan perayaan hari besar keagamaan sebagai sarana menumbuhkan kerukunan antarumat. Pendekatan ini tampaknya membuahkan hasil.


Indeks Kerukunan Umat Beragama mencapai 77,89 pada 2025—skor tertinggi dalam sebelas tahun terakhir—dan Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa agama harus hadir menuntun masyarakat di era modern. Kontribusi YBAI diberikan bukan lewat ceramah teoretis, melainkan melalui keterbukaan yang dapat dirasakan langsung.

Menjadi Tuan Rumah sebagai Praktik

Pada intinya, festival ini memaknai ulang Waisak sebagai laku keramahan. Alih-alih

membatasi perayaan untuk kalangannya sendiri, umat Buddha membuka pintu lebar bagi siapa saja, tanpa memandang keyakinan. Di sinilah makna dāna mendalam—kemurahan sejati bukan semata soal materi, melainkan menyediakan ruang, perhatian, dan rasa diterima. Menjadi tuan rumah yang ramah bagi sesama, kata para penyelenggara, adalah bentuk nyata dari praktik Dharma—dan saat umat lintas iman merasa nyaman berkumpul bersama, di situlah kemanusiaan kita hidup.

 

Ajaran itu, mereka mencatat, terasa sangat relevan hari ini. Persoalan yang dibahas Buddha 2.500 tahun lalu—kecemasan akan masa depan, kelelahan membandingkan diri, kecanduan validasi, dan rasa takut kehilangan—justru persis krisis batin yang dihadapi generasi muda saat ini. Dharma tidak menawarkan obat instan, melainkan cara pandang baru: mindfulness, welas asih, dan seni melepaskan—alat bantu yang bisa dipakai siapa saja, melintasi  sekat agama mana pun.

 

Namun keterbukaan ini dijaga dalam batas yang tegas. Berpijak pada Sigālovāda Sutta (DN 31), YBAI menegaskan bahwa festival ini bukan ruang untuk mengubah keyakinan siapa pun atau merasa lebih baik dari yang lain. Sebagaimana diajarkan Kālāma Sutta, seseorang tak seharusnya menerima sesuatu hanya karena tradisi, melainkan karena ia merasakan sendiri manfaat nyatanya. Dalam semangat itu, festival ini menyajikan nilai-nilai kebaikan tanpa memaksakan pandangan—seberapa banyak yang diambil setiap pengunjung sepenuhnya menjadi haknya sendiri.

Sebuah Rantai Kebaikan

Tak ada yang membuat tema festival ini lebih nyata daripada selembar kertas berbentuk daun bodhi. Pengunjung diajak menuliskan harapan atau cita-cita pada salah satu daun itu— terbuat dari kertas benih yang menyimpan biji hidup di dalamnya—lalu menggantungkannya pada sebuah pohon bodhi di tengah lokasi. Setiap hari, anggota Sangha memberkahi harapan-harapan yang terkumpul. Partisipasi diberikan secara bebas, melalui dāna sukarela, dan donasinya disalurkan untuk menanam pohon di sumber-sumber mata air yang memberi hidup pada Sungai Brantas di kawasan Malang—menjaga salah satu sumber air vital Jawa Timur. Daun-daun itu kemudian memulai kehidupan keduanya. 

 

Setelah festival usai, kertas-benih berisi harapan tersebut didanakan ke Padepokan Dhammadipa Arama di Batu—rumah bagi sekitar seratus anggota Sangha yang kini berlatih dan menempuh studi di Sekolah Tinggi Agama Buddha Kertarajasa (STAB Kertarajasa). Di sana, kertas-kertas itu ditanam di kebun padepokan, tempat biji-biji yang tertanam tumbuh menjadi bayam, seledri, dan selada yang menjadi dana makan sehari-hari bagi komunitas. Satu harapan yang tertulis pun menempuh lingkaran penuh: dari tangan seorang asing, melalui berkah seorang bhikkhu, ke hutan di tepi mata air dan ke bedeng sayur sebuah padepokan, hingga akhirnya tersaji di piring mereka yang membaktikan hidup pada Dharma. Inilah, kata para penyelenggara, interbeing yang terlihat—kebahagiaan yang dipahami sebagai tanggung jawab bersama, dan sebuah kebaikan kecil yang kelak kembali sebagai makanan bagi orang lain

Interbeing, dan Sebuah Pesan Kebangsaan 

Tema ini sendiri dipinjam dari mendiang Thich Nhat Hanh. Interbeing menegaskan satu kebenaran yang mudah terlupa: bahwa kita tak bisa hidup terpisah, dan bahwa kebahagiaan serta penderitaan kita saling terikat. Kerukunan sejati, dengan demikian, lebih dari sekadar saling menoleransi; ia adalah kesadaran penuh bahwa kita benar-benar saling membutuhkan. Para penyelenggara memperluasnya menjadi catatan kebangsaan—sebuah bangsa tak akan maju jika hanya satu kelompok yang sejahtera. Kita naik bersama, atau tertinggal bersama.

Rupang tahun ini memperpanjang rangkaian pencapaian yang mengesankan. Inilah rekor MURI keempat berturut-turut bagi YBAI di festival ini, menyusul rupang Buddha tertinggi di dalam gedung (12,3 m) pada 2023, rupang bergerak terbesar (6,5 m) pada 2024, dan rupang melayang terbesar (8,34 m) pada 2025. Digelar secara konsisten sejak 2015, festival ini telah menjadi salah satu wujud paling kasatmata dari kehidupan Buddhis yang membuka diri di ruang publik Indonesia.

Pada akhirnya, undangan ini terbuka untuk semua—umat yang merayakan, sahabat lintas iman yang datang sebagai tamu hangat, maupun mereka yang sekadar lewat karena penasaran. Sebagaimana dikatakan para penyelenggara: Dharma tidak pernah memaksa. Ia hanya membuka pintu, menyajikan kebaikan, dan membiarkan ketenangan berbicara dengan sendirinya.

Tags :