Event

YBA Refleksi Penguatan Pancasila di Era Digital pada Forum BPIP 2025

Selasa, 16 Desember 2025
Seluruh peserta melaksanakan foto bersama dalam kegiatan Refleksi Akhir Tahun BPIP 2025.
Partisipasi YBA dalam Forum Refleksi Akhir Tahun BPIP 2025 

Young Buddhist Association (YBA) Indonesia turut berpartisipasi dalam Forum Refleksi Akhir Tahun 2025 Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang diselenggarakan di Jakarta, 15 Desember 2025. Forum bertema “Penguatan Pancasila di Ruang Digital” ini menjadi ajang evaluasi capaian BPIP sepanjang 2025 serta diskusi lintas sektor tentang tantangan ideologi negara di era digital. 

 

Dalam pidato kunci acara Refleksi Akhir Tahun 2025, Kepala BPIP Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., menegaskan bahwa pembinaan ideologi Pancasila bukanlah pekerjaan sesaat, melainkan sebuah ikhtiar jangka panjang yang menuntut konsistensi, kolaborasi, dan keteladanan nyata dari seluruh elemen bangsa. Beliau memaparkan berbagai capaian strategis tahun ini, termasuk penyusunan Peta Jalan Pembinaan Ideologi Pancasila 2025-2029 dan penyelesaian Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila, sembari mengingatkan kembali bahwa Pancasila tidak boleh hanya berhenti sebagai dasar negara yang statis, melainkan harus mewujud menjadi “nilai hidup” yang senantiasa dirawat dan diaktualisasikan dalam setiap kebijakan publik, sistem pendidikan, hingga tatanan kehidupan bermasyarakat.

 

Dalam suasana yang inklusif dan dialogis, perwakilan YBA hadir untuk menyuarakan aspirasi generasi muda Buddhis terkait peran dan implementasi nilai-nilai Pancasila di dunia maya. Pada acara refleksi akhir tahun tersebut, YBA diwakili oleh Billy Joeswanto selaku Ketua Dewan Pembina YBA yang hadir bersama Antonius Rizaldy selaku Ketua YBA Jakarta. Turut mendampingi, Suhu Xian Bing (Bhiksu Bhadra Pala Mahasthavira), Dewan Pelindung YBA, yang dikenal sebagai pembina spiritual generasi muda Buddhis. Kehadiran delegasi YBA ini merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk berkontribusi dalam dialog lintas sektor mengenai penguatan ideologi kebangsaan. 

Ketua Dewan Pembina YBA, Billy sedang menanyakan pertanyaaan kepada narasumber.
Pertanyaan Kunci YBA di Ruang Digital

Dalam forum tersebut, YBA melalui Billy Joeswanto mengajukan tiga pertanyaan utama yang menggugah pemikiran para narasumber dan peserta diskusi, yaitu:

  • Apakah negara siap mengakui bahwa ruang digital saat ini lebih dibentuk oleh algoritma global dibanding nilai Pancasila? Jika ya, strategi konkret apa yang disiapkan?
  • Apakah Pancasila akan terus bersifat reaktif, atau bisa menjadi framework preventif dalam kebijakan digital?
  • Untuk para influencer, seandainya Pemerintah mengajak kolaborasi anda dalam Penguatan Pancasila di Ruang Digital, Bagaimana negara memastikan penguatan Pancasila di ruang digital tidak berubah menjadi pembatasan kebebasan berekspresi generasi muda? 

Pertanyaan-pertanyaan di atas mencerminkan keprihatinan YBA terhadap arah perkembangan ruang digital yang kian dipengaruhi oleh algoritma media sosial global.

Melalui pertanyaan-pertanyaan itu, Suhu Xian Bing menggarisbawahi pola kebijakan digital yang kerap bersifat reaktif – aturan baru lahir sebagai respons atas suatu permasalahan di ruang digital. Beliau berharap peserta diskusi merenungkan apakah nilai-nilai Pancasila hanya akan dijadikan alat penanggulangan after the fact, ataukah mampu diarusutamakan sebagai kerangka kerja preventif. Secara konstruktif, YBA mendorong agar Pancasila diintegrasikan sejak awal dalam tata kelola dunia maya, sehingga dapat mencegah krisis (seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, hingga kekerasan digital) sebelum terjadi. Hal ini sejalan dengan harapan agar Pancasila berperan sebagai etika publik yang hidup, bukan sekadar wacana reaktif terhadap masalah.

 

Tak berhenti di situ, Suhu Xian Bing ingin mengetahui langkah nyata apa yang akan diambil pemerintah melalui BPIP dan Lembaga DPR RI Komisi XIII agar Pancasila bisa diterjemahkan secara konkret ke dalam algoritma, kebijakan moderasi, dan sistem insentif platform digital — bukan hanya untuk materi kampanye atau konten publikasi. 

 

Semua pertanyaan disampaikan dengan semangat terbuka dan rendah hati: bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mencari solusi bersama demi ekosistem digital yang lebih sehat sesuai jati diri bangsa.

Para narasumber dalam forum Refleksi Akhir Tahun BPIP 2025
Tanggapan dari Para Narasumber

Menanggapi pertanyaan YBA, para narasumber dalam sesi talkshow memberikan pandangan mendalam dari sudut pandang masing-masing:

Negara tidak boleh megalomania… yang kita butuhkan adalah narasi keseharian.
Willy Aditya
Ketua Komisi XIII DPR RI

Ketua Komisi 13 DPR RI, Willy Aditya, menyerukan agar negara mengubah pendekatan dalam menjaga ideologi Pancasila di tengah gempuran algoritma platform global. Hal ini disampaikannya saat merespons pertanyaan tajam dari YBA tentang kesiapan negara menghadapi realitas bahwa ruang digital kini lebih banyak dibentuk oleh algoritma asing ketimbang nilai Pancasila, serta menuntut strategi konkret agar kebijakan tidak melulu reaktif. Menjawab tantangan tersebut, Willy menegaskan bahwa disrupsi digital adalah keniscayaan sejarah yang tidak perlu disikapi dengan kepanikan, namun membutuhkan strategi baru yang ia sebut sebagai “Perang Hegemoni”.

 

Tinggalkan “Grand Narasi”, Masuk ke “Narasi Keseharian”

Politisi Partai NasDem ini mengkritik pola komunikasi negara yang selama ini terlalu terpaku pada “Grand Narasi”—menempatkan Pancasila di ruang suci yang tak tersentuh (untouchable) dan kaku. “Kita terlalu terjebak dengan narasi besar. Saatnya kita deklarasikan perang hegemoni, bahwa narasi persatuan, ketuhanan, dan gotong royong itu dimulai dari hal-hal kecil, dari narasi keseharian,” ujar Willy. Menurutnya, strategi melawan algoritma yang memicu polarisasi (memancing “otak reptil”) adalah dengan membanjiri ruang digital menggunakan konten-konten humanis yang sederhana.

 

Negara Tidak Boleh “Megalomania”

Poin paling menohok dari Willy adalah peringatannya agar institusi negara, termasuk BPIP, tidak merasa paling hebat sendiri. “Kita harus sedikit pakai ilmu padi. Enggak boleh kita menjadi megalomania, merasa ‘Gue paling benar, gue paling hebat, gue paling bertanggung jawab’. Enggak bisa,” tegasnya. Ia mendorong prinsip kolaborasi ramé ing gawé, sepi ing pamrih (ramai dalam bekerja, sunyi dalam pamrih/pujian). Artinya, negara harus memfasilitasi kreator dan masyarakat untuk menyebarkan nilai Pancasila, tanpa negara harus selalu tampil di depan atau mengklaim kesuksesan tersebut. Biarkan nilai itu hidup secara organik melalui masyarakat.

 

Negara Jangan “Pelit” Apresiasi

Menutup penjelasannya, Willy menyoroti budaya apresiasi yang minim di Indonesia. Ia meminta pemerintah untuk tidak ragu memberikan penghargaan kepada warga, aparat, atau kreator konten yang melakukan kebaikan kecil namun berdampak.”Kita ini pelit sekali minta maaf dan pelit memberikan apresiasi. Padahal, energi dari demokrasi itu adalah apresiasi. Kalau ada yang salah jangan cuma dituding, tapi kalau benar harus kita apresiasi,” pungkas Willy.

Justru saya khawatir kalau suatu hari saya berhenti mengkritik, berarti saya sudah apati sama negara ini. Justru saya mengkritik karena saya cinta banget sama negara ini.
Andovi Da Lopez
Content Creator/Creator of Polarisasi Musikal

Content creator Andovi da Lopez menepis stigma bahwa sikap kritis yang kerap ia tunjukkan di media sosial adalah bentuk perlawanan destruktif terhadap pemerintah. Andovi menegaskan bahwa kritik adalah wujud paling jujur dari rasa nasionalisme.

 

Kritik Tanda Peduli, Bukan Benci

Andovi, yang tumbuh dalam keluarga diplomat dan aktivis, mengaku resah dengan label “oposisi” yang kerap disematkan kepadanya hanya karena ia vokal membahas isu sosial-politik. “Percaya sama gue, gue enggak oposisi. Gue lakukan ini karena gue cinta banget sama Indonesia,” tegas Andovi. Ia menjelaskan filosofinya bahwa diam justru berbahaya. “Justru saya khawatir kalau suatu hari saya berhenti mengkritik, berarti saya sudah apatis sama negara ini. Kritik adalah cara saya menunjukkan kepedulian,” tambahnya.

 

Siap Kolaborasi, Tapi Pemerintah Sering “Takut Duluan”

Menjawab pertanyaan YBA soal kesediaan berkolaborasi dengan negara, Andovi menyatakan dirinya “Sangat Terbuka” (Very Open). Ia tidak anti-pemerintah, namun ia menyoroti bahwa hambatan justru sering datang dari pihak birokrasi yang enggan merangkul kreator kritis. “Saya sangat open, tapi terkadang dari segi ‘sananya’ (pemerintah) yang melihat saya dulu langsung bilang, ‘Aduh jangan deh’,” ungkap Andovi blak-blakan. Ia menekankan bahwa kolaborasi yang sehat harus didasari niat tulus untuk edukasi, bukan sekadar memoles citra atau gimik politik. Ia mencontohkan karya-karyanya seperti DPR Musikal atau Polarisasi Musikal yang, meskipun kritis, memiliki tujuan akhir mempersatukan dan membangun kesadaran politik anak muda tanpa harus bersikap menggurui.

 

Bahaya Label “Konten Buruk”

Terkait wacana pembersihan “konten buruk” di media sosial, Andovi juga memberikan catatan hati-hati yang selaras dengan kekhawatiran soal kebebasan berekspresi. “Siapa yang menilai itu buruk atau tidak? Itu menjadi masalah baru lagi,” ujarnya, mengingatkan bahwa standar moral tidak boleh digunakan semena-mena untuk membatasi kreativitas, selama tidak melanggar hukum atau memecah belah bangsa.

 

Pesan Andovi ini menjadi sinyal kuat bagi BPIP dan pemerintah: bahwa merangkul Gen Z dan milenial tidak bisa dilakukan dengan mendikte, melainkan dengan memberi ruang bagi dialektika yang terbuka, termasuk kritik yang membangun.

Untuk kolaborasi dengan pemerintah, sebenarnya saya sendiri sangat terbuka. Asal jangan di waktu-waktu yang ‘tahun-tahun per lima tahun’ itu. Jangan sampai ditunggangi semua kolaborasinya. By the way, saya followers lama Young Buddhist Association. Saya kira di Batam, ternyata ada di Jakarta.
Husein Ali Rafsanjani
Aktivis/Praktisi Pendidikan

Praktisi pendidikan dan guru konten kreator, Husein Ali Rafsanjani, memberikan peringatan keras kepada pemerintah terkait strategi pelibatan generasi muda dalam kampanye nilai-nilai Pancasila. Husein menegaskan bahwa kolaborasi antara negara dan pegiat digital tidak boleh hanya menjadi komoditas politik musiman.

 

Terbuka Kolaborasi, Asal Tidak “Ditunggangi”

Husein menyambut baik ide kolaborasi antara pemerintah dan kreator konten untuk tujuan edukasi. Namun, ia memberikan syarat mutlak mengenai waktu dan motif pelaksanaannya. “Untuk kolaborasi dengan pemerintah, sebenarnya saya sendiri sangat terbuka. Asal jangan di waktu-waktu yang ‘tahun-tahun per lima tahun’ itu,” ujar Husein menyentil kebiasaan pihak tertentu yang hanya mendekati anak muda menjelang Pemilu.

 

“Jangan sampai ditunggangi semua kolaborasinya,” tambahnya dengan tegas. Husein menginginkan agar upaya membumikan Pancasila dilakukan secara konsisten dan tulus demi pendidikan karakter bangsa, bukan demi mobilisasi suara atau kepentingan politik sesaat.

 

Pancasila yang Organik

Momen menarik terjadi ketika Husein secara personal mengapresiasi penanya. Ia mengaku sebagai pengikut lama (follower) akun media sosial YBA. “By the way, saya followers lama Young Buddhist Association. Saya kira di Batam, ternyata ada di Jakarta,” ungkap Husein. Pengakuan ini menjadi bukti nyata bagaimana nilai toleransi dan saling menghargai antar-kelompok sebenarnya sudah tumbuh subur secara organik di ruang digital tanpa perlu instruksi kaku dari negara.

 

Fokus 2026: Kurangi Sampah Digital

Menjawab pertanyaan mengenai strategi konten di tahun 2026, Husein memiliki pandangan pragmatis. Menurutnya, masalah utama ruang digital Indonesia bukan kekurangan konten positif, melainkan membanjirnya konten negatif.

 

“Sebenarnya yang harus diproduksi lebih banyak lagi itu bagi saya enggak harus (dipaksakan). Yang harus itu dikurangi yang buruk-buruknya. Karena konten bagus itu banyak, banyak banget,” pungkasnya.

 

Pesan Husein ini menjadi masukan berharga bagi BPIP: bahwa tugas negara bukan hanya memproduksi konten baru, tetapi juga membangun ekosistem yang sehat agar konten positif yang sudah ada bisa naik ke permukaan dan tidak tenggelam oleh “sampah” algoritma.

Rangkaian diskusi penuh makna dalam acara “Refleksi Akhir Tahun 2025 BPIP RI”, Senin (15/12), ditutup dengan sebuah kesimpulan komprehensif oleh moderator Friska Clarisa. Usai mendengar paparan dari perwakilan DPR, konten kreator, dan praktisi pendidikan, Friska merangkum tiga pilar utama yang menjadi kunci pengamalan Pancasila di masa depan.

 

Menutup sesi talkshow bertajuk “Memperkokoh Ideologi Pancasila di Ruang Digital”, Friska menggarisbawahi bahwa upaya menjaga ideologi bangsa tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menyentuh tiga ranah kehidupan sekaligus:

  1. Ranah Struktural: Keteladanan Poin pertama yang disorot moderator adalah pentingnya aspek struktural. Mengambil intisari dari diskusi, Friska menegaskan bahwa Pancasila harus hadir melalui “keteladanan” nyata dari para pemimpin dan penyelenggara negara, bukan sekadar hafalan teori.
  2. Ranah Kultural: Empati dan Solidaritas Di level masyarakat atau kultural, Friska menekankan bahwa nilai Pancasila paling nyata terlihat dalam bentuk “empati dan solidaritas”. Hal ini menjadi relevan di ruang digital yang kerap kali kering akan rasa kemanusiaan.
  3. Ranah Natural: Merawat Alam Poin terakhir yang menjadi catatan penting adalah ranah natural. Mencintai Indonesia berarti juga “merawat alam”-nya. Friska mengingatkan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari implementasi nilai-nilai luhur bangsa. 

“Tujuannya satu, agar Pancasila ini bisa betul-betul diwujudkan di berbagai lini dan sendi kehidupan. Mulai dari pendidikan, hingga ruang digital yang bisa menjadi contoh nyata pengamalan Pancasila,” tutup Friska mengakhiri sesi diskusi tersebut.

Refleksi YBA: Aktualisasi Ideologi yang Proaktif di Dunia Maya 

Di era digital, YBA memandang ruang publik daring sebagai salah satu arena strategis pembentukan karakter kebangsaan. Secara faktual, ekosistem digital YBA telah menjangkau audiens yang luas. Akun Instagram resmi Young Buddhist Association (YBA) of Indonesia tercatat memiliki sekitar 1,0 juta pengikut (lebih dari satu juta followers). Sementara itu, kanal YouTube resmi YBA tercatat memiliki sekitar 1,07 juta pelanggan (subscribers) dan memuat ribuan konten video yang menyasar publik luas.

 

Prestasi YBA di YouTube bahkan diakui melampaui kanal milik tokoh Buddhis dunia. Dengan 1,07 juta subscriber, jumlah pelanggan kanal YBA Indonesia melampaui kanal resmi Dalai Lama (sekitar 536 ribu subscriber) maupun kanal Plum Village milik almarhum Thich Nhat Hanh (sekitar 470 ribu subscriber). Artinya, YBA kini mengelola salah satu kanal bertema Buddhis terbesar, bukan hanya di Asia Tenggara tetapi juga di tingkat Asia. Tingginya jumlah pengikut dan subscriber tersebut menunjukkan tingginya engagement (keterlibatan) generasi muda terhadap konten YBA, baik dalam bentuk video Dharma talk, kutipan inspirasional, maupun diskusi interaktif di kolom komentar. Skala jangkauan ini dipahami YBA bukan sebagai capaian popularitas semata, melainkan sebagai amanah ruang publik: semakin besar audiens, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga kualitas narasi, etika komunikasi, dan kemanfaatan sosial— terutama bagi generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan algoritmik.

 

Dalam forum BPIP, YBA menegaskan bahwa kehadiran organisasi bukan semata sebagai komunitas keagamaan, melainkan sebagai warga negara Indonesia yang berkomitmen pada Pancasila dan konstitusi. YBA mempelajari Buddha-Dharma sebagai sumber pembinaan batin, etika, dan welas asih, namun orientasi kontribusi YBA di ruang publik tetap diarahkan untuk kepentingan kebangsaan—yakni penguatan kohesi sosial, kemanusiaan, dan kematangan demokrasi.Karena itu, pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan delegasi YBA kepada narasumber— tentang dominasi algoritma global, kecenderungan regulasi yang reaktif, serta kebutuhan menerjemahkan nilai Pancasila ke dalam algoritma, moderasi, dan insentif platform— bukanlah upaya membawa diskursus ke ruang sempit identitas, melainkan upaya mendorong kebijakan dan kultur digital yang lebih beradab bagi seluruh warga negara.

 

YBA menyadari bahwa algoritma global dari perusahaan teknologi memang berpengaruh besar membentuk preferensi informasi masyarakat. Namun, hal itu bukan alasan untuk menyerah. Justru negara dan elemen masyarakat perlu bersinergi menyusun strategi konkret agar nilai luhur bangsa tidak tergerus. Salah satu contoh strategi yang diapresiasi YBA adalah yang disampaikan Willy Aditya mengenai pemberian penghargaan kepada figur-figur inspiratif di ruang digital. Langkah tersebut selain mengakui peran individu kreator seperti Ferry Irwandi dalam mengamalkan Pancasila, juga mampu memotivasi generasi muda lain untuk mengikuti jejak serupa. Ini sejalan dengan prinsip bahwa perubahan positif di masyarakat bisa dimulai dari teladan konkret. Selain itu, YBA melihat urgensi peningkatan literasi digital berwawasan Pancasila – upaya yang sudah mulai dirintis BPIP dan pemangku kepentingan terkait. Pendidikan Pancasila perlu dikemas dalam bentuk yang menarik minat anak muda (seperti gim edukasi, konten viral yang sarat pesan persatuan, dsb.), sehingga internalisasi nilai terjadi secara alami, bukan dogmatis.

 

Dalam kerangka introspeksi, YBA pun bercermin pada peran organisasi pemuda keagamaan di tengah dinamika digital. YBA menegaskan siap turut ambil bagian dalam membumikan Pancasila secara kontekstual melalui pendekatan Buddhis yang universal, misalnya dengan menekankan nilai welas asih, gotong royong, dan tenggang rasa yang sejalan dengan sila-sila Pancasila. Pendekatan ini akan YBA integrasikan dalam program-program mereka, baik offline maupun online, seperti dialog lintas iman di media sosial, kampanye anti perundungan siber dengan kearifan Buddhis-Pancasila, hingga kolaborasi dengan komunitas kreatif untuk memproduksi konten positif. Semangatnya adalah “tidak ada satu pun pihak yang bisa berjalan sendiri”: memperkuat ideologi bangsa di dunia digital memerlukan keterlibatan semua unsur secara gotong royong. 

Ajakan YBA kepada Generasi Muda

Sebagai penutup refleksi, YBA secara khusus mengajak generasi muda Indonesia – termasuk para pemuda Buddhis – untuk ikut terlibat aktif dalam merawat ruang digital yang berideologi Pancasila. Ajakan ini bukan bersifat indoktrinasi satu arah, melainkan undangan kolaboratif kepada para digital natives untuk menjadi pelopor kebaikan di lingkungan siber. Sudah saatnya ideologi Pancasila diwujudkan secara kreatif dan kontekstual, bukan hanya simbolik. Misalnya, anak muda dapat mulai dari hal sederhana: membuat konten TikTok atau Instagram yang mengangkat cerita toleransi antarumat, menginisiasi diskusi daring tentang musyawarah dan keadilan sosial, atau membangun startup/komunitas digital yang menyelesaikan masalah sosial dengan semangat gotong royong. Hal-hal tersebut, meski tampak kecil, sejatinya merupakan implementasi Pancasila di kehidupan sehari-hari – in action, bukan sekadar slogan.

 

YBA percaya bahwa suara dan karya generasi muda sangat menentukan wajah masa depan ruang digital Indonesia. Oleh karena itu, YBA berkomitmen untuk terus membuka ruang dialog dan kerjasama dengan kaum muda lintas komunitas. Kami berupaya bersikap rendah hati dalam mendengar aspirasi dan ide-ide baru dari generasi sekarang, seraya terbuka terhadap kritik membangun demi perbaikan bersama. Call to action ini kami suarakan dengan penuh harapan: mari bersama-sama kita wujudkan ruang digital yang kreatif, aman, dan beradab, di mana algoritma dan teknologi dapat diarahkan untuk memperkuat nilai Persatuan Indonesia serta kemanusiaan yang adil dan beradab.

 

Terakhir, YBA menegaskan kembali bahwa ideologi Pancasila akan tetap relevan apabila setiap generasi mau mengambil bagian dalam pembaruan pendekatan dan penerapannya. Dengan sikap inklusif dan semangat gotong royong, YBA optimistis pembumian Pancasila di ranah digital dapat tercapai. Ini bukan hanya tugas pemerintah atau BPIP, melainkan tugas kita semua sebagai anak bangsa. Mari buktikan bahwa Pancasila bukan milik buku teks semata, melainkan milik kita bersama yang hidup dalam tindakan nyata – baik di dunia fisik maupun di dunia digital. Salam Pancasila!

Tags :