Event

Ziarah Pahlawan Menyambut Waisak: Sebuah Pagi yang Mengingatkan Kita pada Kebaikan yang Sering Terlupakan

Minggu, 03 Mei 2026

SURABAYA, JAWA TIMUR – Pagi belum genap pukul enam ketika udara di sekitar Taman Makam Pahlawan Sepuluh Nopember, Jalan Mayjend Sungkono, mulai dipenuhi langkah-langkah pelan. Satu per satu, umat Buddha dari berbagai majelis dan organisasi berdatangan. Beberapa membawa rangkaian bunga, sebagian lainnya hanya membawa hati yang siap untuk menunduk. Di antara barisan yang hadir pagi itu, turut hadir pula para pengurus Young Buddhist Association Indonesia (YBA) dengan seragam organisasi, berbaur bersama kawan-kawan dari berbagai komunitas Buddhis.

Kegiatan pagi itu adalah bagian dari rangkaian Karya Bakti dan Ziarah dalam memperingati Vesākha Sānanda 2570 BE / Tahun 2026 di Jawa Timur. Sebuah agenda lintas organisasi yang digerakkan bersama oleh Walubi (Perwakilan Umat Buddha Indonesia) Jawa Timur dan Permabudhi (Persatuan Umat Buddha Indonesia) Jawa Timur, dengan dukungan Bimas Buddha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, IPARI (Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia) kota Surabaya, serta para guru pendidikan agama Buddha Surabaya.

Bapak Ketut Panji Budiawan, S.H., S.Ag., M.M., selaku Pembimas Buddha Kanwil Kemenag Jatim, dan Bapak Dr. H. Muhammad Muslim, S.Ag., M.Sy., Kepala Kankemenag Kota Surabaya, turut mendampingi seluruh rangkaian prosesi.

Sebuah Awal yang Sengaja Dimulai dengan Hening

Sebelum sebuah perayaan besar diselenggarakan, ada laku kecil yang sering luput dilakukan: berhenti sejenak, dan berterima kasih. Itulah yang dipilih oleh umat Buddha Surabaya pagi itu. Sebelum lilin menyala di vihara, sebelum lantunan Sutra dilantunkan dalam pradaksina Waisak, kami memilih untuk lebih dahulu berdiri di hadapan pusara mereka yang dahulu membayar mahal kemerdekaan ini dengan nyawa.

Prosesi diawali dengan upacara penghormatan kepada para pahlawan. Kepala-kepala menunduk perlahan, menyatu dalam satu barisan tanpa membedakan organisasi. Hadir di antaranya umat dari Magabudhi (Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia) Jawa Timur, MBI (Majelis Buddhayana Indonesia) Jawa Timur, Wandani (Wanita Theravada Indonesia) Jawa Timur, WBI (Wanita Buddhis Indonesia), Gemabudhi (Generasi Muda Buddhis Indonesia) Jawa Timur dan organisasi-organisasi keagamaan Buddha lainnya, bersama umat Buddha Surabaya yang datang dengan langkah pelan dan hati terbuka. Tidak ada perbedaan tradisi yang menonjol di pagi itu. Yang ada hanyalah satu kesadaran bersama: bahwa kebebasan beribadah yang kita nikmati hari ini bukanlah pemberian cuma-cuma dari langit.

Selepas itu, prosesi dilanjutkan dengan fangshen, pelepasan burung-burung ke alam bebas. Sayap-sayap kecil itu berhamburan ke udara pagi Surabaya, membawa simbol welas asih yang telah lama menjadi bagian dari tradisi Buddhis. Sebuah pengingat sederhana bahwa kehidupan, sekecil apa pun bentuknya, layak diberi ruang untuk terbang. Acara kemudian ditutup dengan ziarah dan tabur bunga, kelopak demi kelopak yang jatuh perlahan di atas pusara, seolah menggantikan kata-kata yang sebenarnya tidak cukup untuk diucapkan.

Refleksi dari Generasi Muda

Di sela-sela prosesi, salah seorang perwakilan pengurus dari YBA yang turut hadir adalah Chesilia Pangestu, Koordinator Mahasiswa dan Remaja Harian YBA Indonesia. Bagi Chesilia, ini adalah pengalaman pertamanya hadir di acara seperti ini. Ia membagikan refleksinya dengan suara pelan namun mantap.

“Sejujurnya, ini pertama kalinya saya datang ke Taman Makam Pahlawan untuk acara seperti ini, dan rasanya berbeda sekali dari yang saya bayangkan. Sudah sepatutnya kita sebagai umat Buddha mengingat kembali kebaikan para pahlawan, apalagi dalam momen menyambut hari Tri Suci Waisak. Tanpa jasa mereka, mungkin hari ini kita tidak bisa beribadah dengan tenang di vihara, tidak bisa membuat acara-acara kebaikan seperti ini, karena bisa jadi kita masih belum merdeka.”
— Chesilia Pangestu, Koordinator Mahasiswa dan Remaja Harian YBA Indonesia

Kalimat itu, sederhana adanya, justru menangkap apa yang dirasakan banyak peserta pagi itu. Bahwa rasa syukur bukan hanya diucapkan dalam doa, tetapi juga ditunjukkan dalam langkah kaki yang mau berjalan ke tempat-tempat yang sering terlupakan, berdiri di hadapan nama-nama yang sering tak lagi disebut, dan menundukkan kepala bukan karena diminta, melainkan karena merasa.

Waisak yang Berakar pada Kesadaran

Ajaran Buddha mengajarkan bahwa kebijaksanaan tumbuh dari kesadaran terhadap sebab dan akibat. Bahwa setiap kebahagiaan yang kita nikmati hari ini, sekecil apa pun, terhubung pada rangkaian panjang jasa-jasa yang tidak selalu dapat kita lihat. Ada nenek moyang yang merawat tanah ini. Ada pejuang yang mempertahankannya. Ada guru yang mewariskan Dharma. Ada keluarga yang membesarkan kita. Dan ada pahlawan yang gugur tanpa pernah sempat menyaksikan hasilnya.

 

Mengenang mereka, dengan demikian, bukanlah ritual sentimental. Ia adalah cara untuk hidup dengan jujur. Cara untuk menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar berdiri sendirian.

 

Waisak tahun ini, sebagaimana yang dirasakan banyak umat yang hadir pagi itu, ingin dimulai dari kesadaran tersebut. Dari sebuah pengakuan tulus bahwa lampu lilin yang akan kita nyalakan, sutra yang akan kita lantunkan, dan kebahagiaan yang akan kita bagikan, semuanya bisa terjadi karena ada orang-orang yang dahulu memilih untuk membayar harganya bagi kita.

Sebagaimana pesan yang menggema dalam kegiatan ini:

“Melalui kebersamaan, mari kita turut wujudkan Moderasi Beragama.”

 

Sebuah Ajakan yang Lembut

Pagi itu berakhir tanpa banyak kata-kata. Para peserta pulang dengan langkah yang lebih ringan, dan barangkali, hati yang sedikit lebih lapang. Mungkin itulah yang disebut sebagai rasa terima kasih yang tidak gemerlap, namun mengakar.

Untuk teman-teman yang membaca tulisan ini, izinkan kami menitipkan satu ajakan sederhana: dalam minggu-minggu Waisak ini, sempatkanlah berhenti sejenak. Sebut nama orang tua. Doakan guru-guru kita. Kenang mereka yang telah pergi. Sapa tetangga yang berbeda keyakinan. Lakukan satu kebaikan kecil yang tidak perlu diketahui siapa-siapa.

Karena pada akhirnya, Waisak yang sejati bukan tentang seberapa megah perayaannya, melainkan tentang seberapa lembut hati kita setelah merayakannya.

Selamat menyongsong Tri Suci Waisak 2570 BE / Tahun 2026.

Sādhu, sādhu, sādhu. 🙏

Tags :