Suasana pagi yang sunyi menyambut para peserta Temple Stay Theravada di Padepokan Dhammadipa Arama, Batu. Udara pegunungan yang sejuk dan aroma dupa yang lembut seolah menjadi tanda dimulainya sebuah perjalanan spiritual yang jarang ditemukan dalam kesibukan dunia sehari-hari.
Temple Stay adalah program tahunan dari Young Buddhist Association (YBA), khusus dipersembahkan bagi pengurus tetap dan harian YBA menjelang perayaan Waisak. Tahun ini, kegiatan istimewa ini dilangsungkan pada 29–31 Maret 2025, dibimbing langsung oleh Abhisarano Johan.
Day 1: Langkah Awal Menuju Kebijaksanaan
Sebanyak 34 peserta memulai perjalanannya dengan tekad untuk menjalani Aṭṭhasīla—delapan sila moral sebagai dasar praktik Buddhis. Hari pertama diisi dengan pengenalan dan pendalaman meditasi dasar, yang membuka pintu menuju ketenangan dan pemahaman diri. Tanpa ponsel, tanpa distraksi dunia luar—hanya sunyi, napas, dan kesadaran yang menjadi teman sepanjang hari.
Beberapa peserta mengaku, awalnya cukup sulit untuk benar-benar hening dan duduk diam. Tapi seiring waktu, justru dalam keheningan itu mereka mulai mendengar—bukan suara dari luar, tapi suara dari dalam diri sendiri. Ada yang menemukan kedamaian, ada yang menemukan refleksi, dan tak sedikit yang mulai memahami bahwa ketenangan ternyata bisa dipelajari.
Day 2: Belajar dari Kerendahan Hati
Hari kedua dibuka dengan pindapatta, tradisi memberi dana makanan kepada Bhante dan Samanera. Dalam kesederhanaan dan sikap hormat, peserta belajar bahwa kerendahan hati adalah bagian penting dalam kehidupan spiritual.
Kegiatan dilanjutkan dengan bakti lingkungan di area Dhammadipa Arama. Membersihkan tempat suci bukan hanya tentang menjaga kebersihan fisik, tapi juga cara melatih perhatian penuh dalam setiap gerakan. Dari mencabut rumput hingga menyapu jalan setapak, semuanya dilakukan dalam keheningan yang khidmat, namun juga penuh semangat kebersamaan.
Day 3: Pulang dengan Hati yang Baru
Di hari terakhir, suasana haru dan syukur menyelimuti wajah para peserta. Selama tiga hari dua malam, mereka telah menjelma menjadi versi terbaik dari dirinya—lebih tenang, lebih peka, dan lebih sadar. Selain praktik langsung, peserta juga mendapat pengetahuan tentang kehidupan Samanera dan Atthasilani, membuka wawasan baru tentang bagaimana kehidupan seorang pejalan spiritual dijalani dengan sederhana namun bermakna.
Tak hanya itu, hari ketiga juga menjadi momen istimewa karena seluruh peserta bersama anggota Sangha turut merayakan ulang tahun ke-84 Dewan Pelindung YBA, YM. Jayamedho Thera. Bhante Jayamedho adalah sosok yang sangat berjasa dalam perkembangan dan kemajuan Young Buddhist Association Indonesia (YBAI). Nasihat, arahan, dan bimbingan beliau yang tanpa kenal lelah telah membentuk fondasi kuat bagi YBAI, hingga organisasi ini dikenal dan diakui luas oleh masyarakat Buddhis di Indonesia.
Perayaan dilakukan secara sederhana namun penuh rasa hormat dan kehangatan. Ucapan selamat, doa, serta rasa terima kasih tulus mengalir dari peserta dan pengurus, sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi Bhante selama ini. Suasana menjadi semakin khidmat, seolah menyatukan rasa syukur, cinta kasih, dan semangat Dhamma dalam satu momen yang tak terlupakan.
Momen perpisahan kemudian ditutup dengan tawa, pelukan, dan cerita-cerita kecil yang berkesan. Dari aktivitas yang sederhana seperti meditasi, memberi, membersihkan, hingga merenung dalam sunyi, mereka menemukan arti baru dari bahagia—bahagia yang tidak ribut, tidak ramai, tapi dalam dan tenang. Apa yang dibawa pulang bukan hanya kenangan, tapi juga semangat baru untuk menjalani hidup dengan lebih sadar.
Leave a Reply