JAKARTA — Young Buddhist Association (YBA) Indonesia menjadi salah satu organisasi kepemudaan Buddhis yang diundang dalam Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) rencana pemasangan kembali Chattra Candi Borobudur, yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan pada Rabu, 3 Desember 2025 di Jakarta. YBA hadir melalui delegasi resmi yang dipimpin Ketua YBA Jakarta, Antonius Rizualdy, mewakili kepentingan generasi muda Buddhis dalam dialog nasional ini.
FGD mempertemukan arkeolog, akademisi, BRIN, pemuka agama Buddha, pemerintah daerah, organisasi umat Buddha, UNESCO, dan ICOMOS untuk menghimpun masukan sebelum pemerintah menetapkan kebijakan terkait rekonstruksi elemen arsitektur pada puncak stupa utama Borobudur.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa isu Chattra telah muncul sejak abad ke-19 dan selalu melahirkan berbagai interpretasi. FGD ini, menurutnya, adalah ruang untuk mendengar seluruh perspektif. Ketua IAAI Marsis Soetopo memaparkan sejarah rekonstruksi Chattra dan menegaskan perlunya Heritage Impact Assessment (HIA) sebelum keputusan apa pun dibuat.
Ketua Yayasan Ruwat Rawat Borobudur Sucoro Setrodiharjo menyoroti risiko sosial–ekonomi apabila pemasangan memengaruhi stabilitas struktur atau pola kunjungan.
Dari sisi umat, WALUBI melalui Karuna Murdaya menyatakan dukungan asalkan keputusan berpihak pada manfaat spiritual dan kesejahteraan masyarakat. Pengelola kawasan TWC menyatakan siap mengikuti keputusan pemerintah. MADYA mengingatkan bahwa bukti arkeologis terkait bentuk Chattra masih terbatas, sehingga diperlukan riset teknis multidisiplin. Praktisi arkeologi Daud Aris Tanudirjo menegaskan konsekuensi internasional dari setiap perubahan struktur Borobudur.UNESCO melalui Moe Chiba meminta kajian konservasi yang lebih dalam serta pelibatan komunitas Buddhis internasional. Ketua ICOMOS Indonesia Soehardi Hartono menyoroti risiko terhadap keaslian (authenticity) dan integritas Borobudur.
BRIN melalui Ilham Hatta memaparkan hasil analisis struktur stupa induk yang secara teknis mampu menahan Chattra, namun tetap memerlukan DED rinci dan evaluasi jangka panjang. Dari perspektif spiritual, Perwakilan Yayasan Ehipassiko Handaka Vijjananda menekankan bahwa Chattra adalah simbol perlindungan dalam tradisi Buddhis. Menteri Fadli menutup diskusi dengan menegaskan bahwa seluruh masukan akan menjadi dasar rekomendasi pemerintah, dan bahwa pemasangan Chattra dapat memperkuat fungsi spiritual Borobudur sekaligus mendukung ekonomi budaya kawasan.
YBA menyampaikan Position Paper resmi sebagai kontribusi organisasi. Beberapa poin pentingnya meliputi :
YBA juga menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah terkait pembentukan panel independen, transparansi laporan publik, penyusunan SOP konservasi nasional, serta pengintegrasian nilai spiritual umat tanpa mengabaikan rambu ilmiah.
Dalam dokumen posisinya, YBA menegaskan bahwa agama Buddha sejak awal mengajarkan pendekatan empiris dan investigatif terhadap kebenaran—“ehipassiko”, datang dan buktikan sendiri. Prinsip ini selaras dengan semangat konservasi ilmiah yang mengutamakan bukti, kajian teknis, dan verifikasi.
Karena itu, YBA memandang bahwa pelestarian Borobudur harus menggabungkan kebutuhan spiritual umat dengan standar ilmiah konservasi. Kedua pendekatan ini bukanlah dua dunia yang bertentangan, melainkan dua perspektif yang saling memperkuat:
Bagi YBA, keharmonisan antara pengetahuan dan kebijaksanaan adalah fondasi untuk memastikan Borobudur tetap menjadi warisan dunia yang otentik, relevan, dan penuh nilai bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Kehadiran YBA dalam FGD nasional ini menunjukkan bahwa generasi muda Buddhis memiliki peran strategis dalam pelestarian warisan budaya Indonesia. Dengan sikap moderat, ilmiah, dan mencerminkan nilai keseimbangan Buddhis, YBA berkomitmen mengawal proses ini hingga menghasilkan keputusan terbaik bagi Borobudur dan umat Buddha.
Leave a Reply