Banyak yang mengenal Vihara Lalitavistara Cilincing. Tapi sedikit yang tahu kisah di balik pengabdiannya. Lahir di Jakarta, 18 Juni 1957. Sejak belia, ia sudah menapaki jalan Dharma dibimbing gurunya, Master Tjong Hua, di vihara Cilincing. Pada 1969, ia menjadi sramanera, calon biksu cilik yang memilih jalan suci.
Foto: Foto Bhiksu Andhanavira Mahasthavira (Kecil) dengan Papa (Sebelah Kanan), Kakek, Nenek, Mama dan Adik keduanya. Saat sang guru wafat, ia tak berhenti. Tahun 1980, ia berangkat ke Taiwan, menempa diri di Fo Guang Shan, biara Mahayana yang mengajarkan Buddhisme Humanistik: Dharma yang turun ke tengah masyarakat. 28 November 1983, ia ditahbiskan penuh sebagai bhiksu.
Dari 1985 hingga 1989, ia memimpin pemugaran besar Vihara Lalitavistara, termasuk membangun Altar 1000 Buddha. Diresmikan langsung oleh Menteri Agama RI, 7 Oktober 1989. Tempat ibadah tua itu hidup kembali. Tapi visinya melampaui altar. Ia mendirikan STAB Maha Prajna, disebut sekolah tinggi Buddhis tradisi Mahayana pertama di Indonesia – dibuka tahun 2001. Dan yang menyentuh: mahasiswanya diberi asrama gratis sampai lulus, dengan beasiswa penuh. Pendidikan, katanya, untuk semua.
Foto: Peresmian Gedung Sekolah Maha Prajna, 1996
Terbuka untuk siapa saja, tanpa memandang agama. Bahkan, di Sekolah Maha Prajna, sebagian besar muridnya justru beragama Islam. Inilah Dharma yang merangkul, bukan menyekat.
Foto: Pengobatan Masal di Klinik Maha Karuna Cilincing. la juga ingin umat merasakan jalan suci itu, bukan sekadar mendengarnya. Sejak 1989, ia merintis program Pravraja sementara: umat awam menjalani kehidupan monastik untuk sementara waktu. Kini, program itu menjadi tradisi tahunan Sangha Mahayana Indonesia.
Foto: Bhiksu Andhanavira melakukan Dhiksa pencukuran
Lebih dari 30 tahun, ia menjadi Sekretaris Jenderal Sangha Mahayana Indonesia, kini duduk sebagai Dewan Sesepuh. Pada Waisak Nasional 2008, ia dipercaya menjadi Ketua Umum Panitia perayaan di Candi Borobudur. Fakta yang jarang diceritakan:
• Sejak muda, ia berharap umat “tak hanya beragama di KTP”, tapi sungguh menghayati. (arsip Tempo, 1991)
• Tahun 2025, ia memimpin ritual Shui Lu pada 120 Tahun Vihara Lalitavistara, dihadiri 120 Suhu dari dalam & luar negeri.
Sebuah hidup yang utuh diberikan untuk Dharma.
Selamat Ulang Tahun ke-69, Bhiksu. Semoga panjang usia, sehat selalu, dan terus menyinari Buddha Dharma di Nusantara.
Tulis ucapan untuk Bhiksu di kolom komentar.
Leave a Reply