3 Fakta Unik Ajaran Buddha

Senin, 13 Juli 2026

700 Tahun Lalu, Seorang Raja Jawa Punya Satu Permintaan Yang Tak Biasa

Peristiwanya

12 Juli 2026. Di Candi Singhasari, Malang. Para Bhikkhu dari Wihara Dhammadipa Arama dipimpin Bhikkhu Jayamedho Thera.
Dan umat Hindu dipimpin Ida Rshi Bhegawan Putra Anom Pemayun Wilwatikta, bersama Ketua PHDI Kota Batu. Berkumpul dalam satu upacara bersama.

 

Upacaranya Bernama “Matur Piuning”.

Dalam tradisi Hindu: memohon restu & izin kepada Yang Ilahi & para leluhur sebelum sebuah peristiwa penting. Kali ini, restu dimohon menjelang pementasan sakral Sri Aji Dalem Jawi & Wayang Wong Tantri di Wihara Dhammadipa Arama.
Sebuah bentuk nyata persaudaraan Hindu-Buddha.

 

Tapi Kenapa Justru di Candi Singhasari?

Karena candi ini bukan candi biasa.
Ia adalah tempat pendharmaan tempat pemuliaan Raja Kertanegara, penguasa terakhir Singhasari, yang wafat 1292. Dan Kertanegara adalah penganut Siwa-Buddha.

 

Dan Inilah Yang Menakjubkan.

Dalam kitab kuno Negarakertagama, tercatat bahwa Kertanegara justru menginginkan pemeluk Siwa dan pemeluk Buddha untuk selalu beribadah bersama.
Candi Singhasari bukan sekadar makam.
Ia adalah wujud batu dari sebuah cita-cita bahwa yang berbeda bisa bersujud berdampingan.
Perpaduan penghormatan Hindu (Siwa) dan Buddha.

 

Kalimat
Yang Lahir Darinya.

Semangat Siwa-Buddha ini kemudian matang di era Majapahit dan seorang pujangga agung, Mpu Tantular, menuliskannya dalam Kakawin Sutasoma: “Konon Buddha dan Siwa adalah dua yang berbeda… tetapi kebenaran keduanya tunggal. Berbeda, tetapi satu jua.”
Dan bait itu ditutup dengan “tan hana dharma mangrwa” – tak ada kebenaran yang mendua.

 

Semboyan Bangsa Kita

Kenal kalimat itu?
Ya. Dari bait tentang persatuan Hindu-Buddha itulah, lahir semboyan negara kita: Bhinneka Tunggal Ika.
Kalimat yang kita baca di kaki Garuda, setiap hari lahir dari persaudaraan Siwa dan Buddha.

 

Tapi Yang
Perlu Dipahami

Tapi ini perlu dipahami dengan jernih. Ini bukan berarti Hindu dan Buddha adalah “agama yang sama”. Keduanya tetap berbeda.
Tetap punya jalannya masing-masing.
Yang tunggal adalah penghormatan pada Kebenaran tertinggi dan semangat persaudaraan.
Berbeda dan justru dalam perbedaan itu, bersaudara.

 

Nusantara Yang Mengingat Jati Dirinya

Jadi saat para Bhante dan para Bhagawan duduk bersama di Candi Singhasari minggu ini, itu bukan sekadar sebuah acara. Itu adalah Nusantara mengingat jati dirinya. Sebuah warisan 700 tahun yang menolak untuk mati.

 

Penutup

Di Young Buddhist Association, “Humanity Across Religion” bukanlah slogan impor. Ia adalah jiwa tertua tanah ini. Terima kasih kepada semua yang menjaganya tetap hidup para Bhante, para Bhagawan, Wihara Dhammadipa Arama, Yayasan Puri Kauhan Ubud, dan semua saudara lintas-iman.
Berbeda, tetapi satu jua.
Rahayu, Sadhu

700 Tahun Lalu, Seorang Raja Jawa Punya Satu Permintaan Yang Tak Biasa
Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *