Dalam ajaran Buddha, tidak ada “surga khusus anjing”, tetapi hukum kamma berlaku sama bagi semua makhluk, tanpa terkecuali. Seekor anabul atau anjing bisa lahir di alam yang lebih baik, termasuk alam deva, bila sebab-akibat batinnya cukup mendukung. Namun yang lebih sering terjadi, hewan berjasa akan naik ke alam manusia dengan kondisi yang lebih baik.
Anjing bisa “naik kelas” karena kelahiran berikutnya ditentukan oleh berbagai faktor: Kelahiran anabul ditentukan oleh kamma masa lampau, kebiasaan batin, kondisi menjelang wafat, serta doa dan kebajikan yang dilimpahkan manusia. Anabul penyelamat yang menjaga nyawa dan memberi rasa aman telah menanam benih kebajikan ahimsa, anti-kekerasan, yang menguatkan peluang kelahiran baik.
Kemungkinan kelahiran kembali bisa beragam. Jika ada dukungan kamma baik masa lalu, wafat dalam kondisi damai, serta dilimpahkan jasa dengan penuh cinta, ia bisa lahir di alam deva. Bagi anabul berjasa, kelahiran sebagai manusia paling umum terjadi, meski jika arus kamma kehewanannya masih kuat, ia bisa terlahir sebagai hewan lagi.
Manusia dapat mendukung anabul dengan menenangkan suasana saat ia sakit atau wafat, memberi kasih, doa, dan mantra. Setelahnya, lanjutkan kebajikan atas namanya-berdana, membantu hewan, atau menanam pohon-serta limpahkan jasa itu sebagai cahaya penuntun ke alam lebih terang.
Seekor anabul bisa saja lahir di surga, tetapi lebih sering kemungkinan yang muncul adalah lahir sebagai manusia dengan bekal kebajikan. Keheroikannya, ditambah doa dan perbuatan baik yang kita teruskan, akan menjadi tiket terbaik bagi kelahirannya. Balas budi terindah ialah menenangkan batinnya, meneruskan kebajikannya, dan mendoakan kelahiran damai.
Leave a Reply