Pernahkah Anda merasa bahwa hidup bukan sekadar deretan angka atau pencapaian materi, melainkan sebuah panggilan misterius yang menanti untuk dijawab? Kadang, pencerahan tidak datang melalui khotbah yang megah, melainkan melalui sentuhan dingin batu candi di bawah jemari seorang remaja berusia tujuh belas tahun yang nekat bersepeda dari Malang menuju Yogyakarta. Di sanalah, di antara relief Borobudur yang bisu, sesuatu yang tak kasat mata terbangun dalam diri seorang pemuda dari keluarga Muslim asal Madura. Tanpa kitab suci di tangan dan tanpa seorang pun kawan seiman, ia telah menemukan jalannya sendiri, sebuah bukti bahwa nilai-nilai kebajikan bersifat universal dan melampaui batas-batas identitas yang sering kali memisahkan kita.
Kehidupan modern sering kali menjebak kita dalam dikotomi antara kesuksesan duniawi dan ketenangan batin, seolah-olah kita harus memilih salah satunya. Namun, perjalanan batin ini mengajarkan hal yang berbeda: bagaimana seseorang bisa membangun karier korporat yang gemilang di perusahaan-perusahaan besar sembari meletakkan fondasi institusi Buddhis di Indonesia. Ia membuktikan bahwa spiritualitas bukanlah pelarian dari realitas, melainkan jangkar yang menjaga kita tetap tegak di tengah badai ambisi. Menjadi pelopor bagi generasi muda dan duduk bersama para pemimpin bangsa serta tokoh dunia lintas agama hanyalah bagian dari pengabdian luar biasa yang berakar pada satu prinsip sederhana: menolong orang lain adalah sebuah kesempatan yang belum tentu datang kembali.
Ada sebuah keberanian yang tenang saat seseorang memutuskan untuk melepas segala atribut kemegahan duniawi tepat di saat usianya menginjak angka tujuh puluh. Melepaskan jabatan, harta, dan kenyamanan hidup rumah tangga bukanlah sebuah bentuk kekalahan, melainkan puncak dari pemahaman bahwa segala kepemilikan hanyalah sebatas “titipan” yang semu. Dalam tradisi yang bijak, langkah ini adalah upaya untuk menyucikan diri dan menemukan keterentraman yang lebih dalam, sebuah perjalanan menuju kebebasan sejati yang tidak lagi terikat oleh angka-angka di saldo bank atau gelar-gelar kehormatan yang pernah diterima dari raja maupun keraton.
Kini, di usia yang telah mencapai delapan puluh lima tahun, langkah kaki itu belum juga berhenti, meski kini ia berjalan dalam jubah kesederhanaan sebagai seorang bhikkhu. Semangatnya untuk membimbing generasi muda dan merajut dialog lintas agama tetap menyala, mengingatkan kita semua bahwa esensi dari pencerahan adalah kasih sayang yang tak terbatas kepada semua makhluk. Melalui kisah ini, kita diajak untuk merefleksikan kembali tantangan hidup kita saat ini: apakah kita masih terus mengejar bayangan, ataukah kita sudah mulai berani menyentuh “batu Borobudur” dalam hati kita sendiri dan memulai perjalanan pulang ke dalam diri yang paling hakiki?
Leave a Reply